Rabu, 11 November 2015

Cerpen - Hujan Malam Ini



Hujan Malam Ini




Desember, 2014

Suara ketukan di pintu kamar kos ku membuat aku menghentikan permainan game yang tengah aku jalani. Siapa yang datang ke sini malam-malam begini? Jangan-jangan.. Ah, tidak mungkin. Bukankah sms dari pacarku baru saja aku balas 5 menit yang lalu. Tidak mungkin dia ke sini karena marah sms-nya tak kubalas.


Ketukan itu terdengar lagi. Kesal, aku pun membuka pintu itu keras dengan memasang ekspresi semenakutkan mungkin. Tak peduli jika itu benar-benar pacarku. Dia memang keterlaluan. Tak pernah membiarkan sedetik waktu pun untuk aku menghabiskan waktu sendiri tanpa dicampuri oleh wanita rempong sepertinya. Pintu kamar kosku sepenuhnya terbuka, menampilkan sesosok gadis lain. Tak mungkin dia kan? Untuk apa dia ke sini. Dan kenapa dengan wajah manisnya itu.

***

Dia hanya duduk diam menatap hujan malam ini melalui kaca jendela yang kotor. Tak ada suara yang keluar dari mulutnya semenjak ia kusuruh masuk. Tatapan kosongnya membuatku enggan menanyai tentang apa yang sebenarnya terjadi. Untuk itu, aku hanya mencoba cuek dan melanjutkan permainan game yang tadi sempat terhenti.

Pletak ! Sebuah bantal mendarat mulus mengenai kepalaku disusul sebuah suara, “Lo nggak ngerti etika menerima tamu ya? Kasih minum kek. Kasih makan kek. Bukannya ditinggal nge-game.”

Aku mengelus-elus kepalaku. Baru saja aku ingin membalas omelannya, dia sudah beranjak dari duduknya. “Gue bisa ambil sendiri. Toh emang itu yang selalu lo lakuin di rumah gue kan? Kulkas lo dimana?”

“Dapur.” Jawabku singkat sebelum mengalihkan perhatianku padanya. “Yang deket kamar mandi noh.” Tambahku.

***

Sepuluh menit berlalu tanpa dirinya yang tak kunjung kembali. Merasa ada yang janggal, aku menghentikan permainanku dan beranjak menuju dapur. Meski tak terlalu besar, aku punya dapur dan kamar mandi sendiri di dalamnya. Setidaknya aku tak perlu mengantri kamar mandi dengan yang lain juga punya kulkas sendiri di kamarku. Aku berjalan perlahan dan menemukan gadis itu tengah duduk di depan kulkas milikku sambil meminum… Astaga, apa dia gila? Kenapa dia meminum itu?

“Heh !” Aku memanggilnya, dia hanya menoleh sekilas sambil tersenyum senang. Gawat, sepertinya dia mabuk. Berapa gelas yang ia minum? Ah… Sial ! Itu stok terakhir milikku. Tapi, melainkan merasa kecewa melihat gadis bodoh ini menghabiskan minuman milikku, aku lebih merasa menyesal telah menyimpan minuman haram itu.

“Bangun.” Aku membangunkannya dengan menendangnya menggunakan kakiku. Tak mendapat reaksi, aku mengangkatnya. Dia tidak berat sama sekali karena tubuhnya memang  kecil mungil. Ku tidurkan dia di satu-satunya kasur yang ada di kamar kos ku. Sempat kudengar dirinya yang mengumpat tak jelas sebelum akhirnya jatuh tertidur.

Hujan di luar makin deras, membuat malam ini  terasa makin dingin. Ku ambil selimut milikku dan menyelimuti gadis mungil dihadapanku. Saat memandanginya yang tertidur pulas, pikiranku melayang ke kejadian saat pertama kali kita bertemu. Waktu itu hujan juga turun sangat lebat.

***

Desember, 2010

“Ayo cepet anterin.” Ibu menendang pantatku. Rasanya sakit. Ah sial. Aku kalah lagi dari kakak saat ibu menendangku. Kenapa ibu selalu menggangguku saat bermain game?

“Apa sih, Bu?” Aku menoleh pada ibuku kesal. Ibu malah menyodorkanku sebuah kotak. “Anterin ke tetangga sebelah. Sebagai tetangga baru kita harus saling menyapa.” Aku mengambil kotak itu dari tangan ibu. Lebih baik mengantar kotak ini dengan cepat sebelum ibu mengomel tak jelas.

Hujan malam ini sangat deras. Aku memakai jas hujan warna kuning milikku sebelum bergegas mengantar kue dalam kotak ini ke tetangga sebelah. Angin malam langsung menusuk tulang kakiku. Sial. Kenapa juga aku harus pakai celana pendek.

Aku mengetuk pintu sebelah rumahku. “Bentar…” teriak seseorang dari dalam.

Ceklek ! Pintu terbuka dan menampilkan sesosok gadis, bukan dia bukan gadis. Penampilan acak-acakan dari ujung rambut sampai ujung kaki membuatnya tak terlihat seperti seorang gadis. Dari sekian banyak kemungkinan tetangga baru yang seksi, kenapa aku mendapat tetangga baru sepertinya.

“Ada apa?” tanyanya ketus, tangannya menggaruk-garuk kepalanya pelan sambil memakan apel yang ada di tangan satunya.

Aku membuka penutup kepala jas hujanku. Tersenyum pelan sambil menyodorkan sekotak kue padanya. “Ini dari Ibuku. Aku tetangga baru yang tinggal di sebelah.” Bukannya menerima atau menjawab, ia malah diam di tempat dengan mulut menganga. Benar-benar seperti orang bodoh. Saat aku ingin bersuara tiba-tiba pintu tertutup. Ini jadi mau kuenya emak gue apa enggak sih? Kesal, aku pun langsung beranjak pulang.

“Kok kotaknya masih di kamu?” suara milik Ibu langsung menyapaku saat kakiku menginjak lantai ruang tamu.

“Tetangganya nggak mau.” Jawabku santai sambil mencoba melanjutkan permainan game yang tadi sempat terhenti.

Plak ! Ibu memukul kepalaku keras. “Ibu…” aku merengek kesakitan.

“Apa hah? Kamu itu kalo disuruh emang nggak pernah bener.” Ibu memarahiku.

“Tapi kan…” Saat aku ingin membalas, tiba-tiba terdengar suara pintu rumahku diketuk.

“Bukain tuh.” Ibu menyuruhku sebelum ia berlalu menuju dapur. Dengan malas aku berjalan menuju pintu.

“Malam, Kak. Selamat datang di sini.” Gadis berantakan tadi datang ke rumahku. Tidak. Dia tidak berantakan seperti tadi. Dia terlihat manis dengan bando kelinci di kepalanya.

 ***

Desember, 2014

Aku tersenyum mengingat kejadian konyol itu. Sejak saat itu dia terlihat selalu membuntutiku kemana saja. Dia bahkan mendaftar di SMA di mana aku bersekolah dan menjadi adik kelasku. Memilih jurusan yang sama denganku saat dia naik ke kelas 11. Memilih kantin yang sama yang membuat kita selalu bertemu. Memilih kamar mandi dekat kelasku yang jauh dari kelasnya. Mengambil ekstrakulikuler yang sama denganku meski aku tahu dia sama sekali tak punya minat ataupun bakat di situ. Membuatku merasa tak nyaman dengannya dan memutuskan mencari pacar dan berharap dia mulai menjauhiku.

Awalnya memang dia menjauhiku, namun saat tahu bahwa teman-teman sekelasku bilang bahwa mereka menyukainya, ada perasaan tak suka dalam hatiku. Aku mulai bosan dengan pacarku dan berpikir bahwa gadis itu terlihat semakin cantik saja. Aku juga tak ingin ada yang mendekatinya. Saat sahabatku satu-satunya berkata dia ingin menyatakan cinta padanya, aku langsung melarangnya. Berkata bahwa dia adik kesayanganku dan tak boleh ada yang menyakitinya. Dia gadis yang berhasil membuat persahabatanku renggang.

Tak hanya sampai di SMA saja. Saat tahu aku kuliah di Universitas Indonesia, dia juga mengikutiku ke sini. Meski kali ini beda jurusan setidaknya fakultasku dan fakultasnya berdekatan. Tapi sialnya, keadaan sekarang sama saja saat SMA. Aku sudah punya pacar, dan gadis ini terlihat semakin cantik saja.

Suara lenguhannya mengalihkan perhatianku. Ku lirik jam weker di meja komputerku. Jam menunjukkan pukul 12 malam. Hujan masih saja turun ke bumi, meski tak sederas tadi malam.

“Bangun…” Aku mencoba membangunkannya. Di dekatku sudah ada segelas jus jeruk yang sengaja kusiapkan tadi. Dia menggeliat sebelum akhirnya bangun.

“Nih..” Aku memberikan jus jeruk itu padanya. “Biar lo nggak pusing.” Kataku singkat. Dia meminumnya perlahan.

“Semalem gue diem karena elo terlihat menyedihkan.” Aku mulai angkat bicara. “Tapi sekarang gue mau minta penjelasan. Apa yang ngebuat lo ke sini dan ngabisin minuman punya gue?”

Dia melirikku sebentar. “Minuman nggak enak gitu dibeli.” Dia menjawab singkat sambil mempoutkan bibirnya. Please, jangan lakuin itu di sini. Di kamar gue saat hujan sedang turun dan keadaan sepi. Gue bisa mikir macem-macem nih.

Dia menyerahkan gelas yang sudah tak berisi padaku. Aku mengambilnya sambil terus memandanginya meminta penjelasan. Dia tetap tak mau menjawab. Matanya lebih memilih memandang jendela kamarku yang berembun karena hujan dibanding diriku. Gue lebih ganteng daripada tuh jendela kali.

“Ayah…” Aku memandangnya saat dia bersuara lirih. “Sama Ibu… berantem lagi.”

Lagi? Huh ! Dasar orang dewasa tidak tahu diri. Kenapa akhir-akhir ini orang tuanya sering sekali bertengkar.

“Kali ini lebih parah karena para tetangga mulai ikut campur urusan ini.” Dia melanjutkan.

“Mereka bilang, Ibu selingkuh.” Satu tetes air mata terlihat menetes melewati pipinya. “Dan bodohnya Ayah percaya sama tetangga.” Aku menghela nafas.

“Dan nyebelinnya, Ayah bilang Ibu itu selingkuhnya sama elo.” Tiba-tiba suaranya meninggi. Tangannya menunjuk tepat ke arah wajahku.

Aku diam, sebelum akhirnya aku tertawa mendengarnya. “Nggak masuk akal tahu nggak.”

Dia menurunkan telunjuknya. “Emang nggak masuk akal. Tapi gara-gara elo sering main ke rumah gue dan Ibu nemenin elo sampai larut malem bikin itu semua jadi masuk akal.”

Gue melotot. Bener-bener gila. Gimana bisa gue dapet gosip selingkuh sama emak-emak di saat gue lebih pantes bersanding dengan anaknya.

“Kenapa lo sering main ke rumah sih? Bikin rumah tangga orang rusak aja.” Dia memarahiku kembali, dengan wajah imut tentunya.

Aku diam tak menanggapi. Karena tak mungkin aku menjawab jika aku sering main ke rumahnya hanya untuk melihat wajahnya yang ternyata tak kunjung keluar dari kamarnya dan membuatku malah mengobrol semalaman dengan ibunya.

“Lo tahu kan itu nggak masuk akal?”

Dia memalingkan wajahnya dariku.

“Liat orang yang lagi ngajak lo ngomong.” Tegasku, membuatnya mau tak mau memandangku. “Jadi masalah nggak masuk akal ini yang ngebuat elo malem-malem ke sini dan… dan ngabisin minuman mahal gue?”

“Itu minuman haram.” Jawabnya ketus.

“Dan lo baru aja minum.” Balasku tak kalah ketus.

“Gue khilaf.” Jawabnya singkat.

Kemudian keheningan pun terjadi. Tak ada di antara kami yang mencoba bersuara. Hanya suara rintik hujan yang terdengar bersahutan.

Saat diriku ingin beranjak dari sana, dia bersuara. “Aku butuh seseorang yang disalahkan atas kehidupan keluarga gue yang ada di ambang kehancuran.”

Aku memandangnya. “Sebenernya bukan Ibu digosipin selingkuh sama lo yang jadi bahan pembicaraan tetangga. Tapi…” Dia memandangku, matanya terlihat sayu. “Ayah bilang kalo aku bukan anak kandungnya.” Air matanya kembali turun. Kali ini lebih banyak dari yang tadi. Dan juga terdengar isakan darinya.

Aku mendekat, mencoba menenangkannya dengan mengelus pundaknya pelan. “Dia bilang… Dia bilang ke gue kalo gue anak haram. Gue… bukan anak kandungnya.” Isakannya semakin keras.

Dia mencoba menghentikan tangisannya. “Gue nggak tahu apa gue bener anak haram atau bukan. Gue… Gue takut… Gue takut kalo nantinya…” Aku memeluknya, menghentikan segala omongan yang belum sempat diucapkannya.

“Itu nggak mungkin..” kataku lirih. Dia melepas pelukanku. Memandangku dengan tatapan yang entah apa itu.

“Gimana bisa lo bilang itu nggak mungkin?” Ku lihat bibirnya bergetar. “Lo sendiri kan yang bilang kalo gue nggak punya kemiripan sama sekali sama ayah. Dan juga gue beda dari adik-adik gue.”

Dia mengungkit hal ini kembali. Ejekan yang selalu kulontarkan saat aku mulai kesal padanya. Aku tak tahu jika ejekan ini akan berdampak buruk baginya.

“Biarkan itu menjadi rahasia.”

“Maksudnya?”

“Entah itu hanya gossip atau benar terjadi. Kau hanya perlu percaya. Percaya bahwa semua akan baik-baik saja.”

Keheningan kembali terjadi. Hujan malam ini mencoba mengaburkan suaraku. Membawanya pergi bersama angin malam. Mencoba menguatkan seorang gadis yang tengah mengalami kerapuhan. Meski ia terlihat bahagia selama ini,  tapi malam ini ia terlihat rapuh. Memang benar kata orang jika ibu-ibu yang sedang kumpul bergosip bisa lebih kejam dibanding film pembunuhan manapun. Terbukti dari gadis yang tengah berada di hadapanku sekarang. Omongan tak jelas dari mereka berhasil membuatnya hancur.

Ungaran, 24 Desember 2014

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar