Hujan Malam Ini
Desember, 2014
Suara ketukan di pintu kamar kos ku
membuat aku menghentikan permainan game
yang tengah aku jalani. Siapa yang datang ke sini malam-malam begini?
Jangan-jangan.. Ah, tidak mungkin. Bukankah sms dari pacarku baru saja aku balas
5 menit yang lalu. Tidak mungkin dia ke sini karena marah sms-nya tak kubalas.
Ketukan itu terdengar lagi. Kesal, aku
pun membuka pintu itu keras dengan memasang ekspresi semenakutkan mungkin. Tak
peduli jika itu benar-benar pacarku. Dia memang keterlaluan. Tak pernah
membiarkan sedetik waktu pun untuk aku menghabiskan waktu sendiri tanpa
dicampuri oleh wanita rempong sepertinya. Pintu kamar kosku sepenuhnya terbuka,
menampilkan sesosok gadis lain. Tak mungkin dia kan? Untuk apa dia ke sini. Dan
kenapa dengan wajah manisnya itu.
***
Dia hanya duduk diam menatap hujan malam
ini melalui kaca jendela yang kotor. Tak ada suara yang keluar dari mulutnya
semenjak ia kusuruh masuk. Tatapan kosongnya membuatku enggan menanyai tentang
apa yang sebenarnya terjadi. Untuk itu, aku hanya mencoba cuek dan melanjutkan
permainan game yang tadi sempat
terhenti.
Pletak ! Sebuah bantal mendarat mulus
mengenai kepalaku disusul sebuah suara, “Lo nggak ngerti etika menerima tamu
ya? Kasih minum kek. Kasih makan kek. Bukannya ditinggal nge-game.”
Aku mengelus-elus kepalaku. Baru saja
aku ingin membalas omelannya, dia sudah beranjak dari duduknya. “Gue bisa ambil
sendiri. Toh emang itu yang selalu lo lakuin di rumah gue kan? Kulkas lo
dimana?”
“Dapur.” Jawabku singkat sebelum mengalihkan
perhatianku padanya. “Yang deket kamar mandi noh.” Tambahku.
***
Sepuluh menit berlalu tanpa dirinya yang
tak kunjung kembali. Merasa ada yang janggal, aku menghentikan permainanku dan
beranjak menuju dapur. Meski tak terlalu besar, aku punya dapur dan kamar mandi
sendiri di dalamnya. Setidaknya aku tak perlu mengantri kamar mandi dengan yang
lain juga punya kulkas sendiri di kamarku. Aku berjalan perlahan dan menemukan
gadis itu tengah duduk di depan kulkas milikku sambil meminum… Astaga, apa dia
gila? Kenapa dia meminum itu?
“Heh !” Aku memanggilnya, dia hanya
menoleh sekilas sambil tersenyum senang. Gawat, sepertinya dia mabuk. Berapa
gelas yang ia minum? Ah… Sial ! Itu stok terakhir milikku. Tapi, melainkan
merasa kecewa melihat gadis bodoh ini menghabiskan minuman milikku, aku lebih
merasa menyesal telah menyimpan minuman haram itu.
“Bangun.” Aku membangunkannya dengan
menendangnya menggunakan kakiku. Tak mendapat reaksi, aku mengangkatnya. Dia
tidak berat sama sekali karena tubuhnya memang
kecil mungil. Ku tidurkan dia di satu-satunya kasur yang ada di kamar
kos ku. Sempat kudengar dirinya yang mengumpat tak jelas sebelum akhirnya jatuh
tertidur.
Hujan di luar makin deras, membuat malam
ini terasa makin dingin. Ku ambil
selimut milikku dan menyelimuti gadis mungil dihadapanku. Saat memandanginya
yang tertidur pulas, pikiranku melayang ke kejadian saat pertama kali kita
bertemu. Waktu itu hujan juga turun sangat lebat.
***
Desember, 2010
“Ayo cepet anterin.” Ibu menendang
pantatku. Rasanya sakit. Ah sial. Aku kalah lagi dari kakak saat ibu
menendangku. Kenapa ibu selalu menggangguku saat bermain game?
“Apa sih, Bu?” Aku menoleh pada ibuku
kesal. Ibu malah menyodorkanku sebuah kotak. “Anterin ke tetangga sebelah.
Sebagai tetangga baru kita harus saling menyapa.” Aku mengambil kotak itu dari
tangan ibu. Lebih baik mengantar kotak ini dengan cepat sebelum ibu mengomel
tak jelas.
Hujan malam ini sangat deras. Aku
memakai jas hujan warna kuning milikku sebelum bergegas mengantar kue dalam
kotak ini ke tetangga sebelah. Angin malam langsung menusuk tulang kakiku.
Sial. Kenapa juga aku harus pakai celana pendek.
Aku mengetuk pintu sebelah rumahku.
“Bentar…” teriak seseorang dari dalam.
Ceklek ! Pintu terbuka dan menampilkan
sesosok gadis, bukan dia bukan gadis. Penampilan acak-acakan dari ujung rambut
sampai ujung kaki membuatnya tak terlihat seperti seorang gadis. Dari sekian
banyak kemungkinan tetangga baru yang seksi, kenapa aku mendapat tetangga baru
sepertinya.
“Ada apa?” tanyanya ketus, tangannya
menggaruk-garuk kepalanya pelan sambil memakan apel yang ada di tangan satunya.
Aku membuka penutup kepala jas hujanku.
Tersenyum pelan sambil menyodorkan sekotak kue padanya. “Ini dari Ibuku. Aku
tetangga baru yang tinggal di sebelah.” Bukannya menerima atau menjawab, ia
malah diam di tempat dengan mulut menganga. Benar-benar seperti orang bodoh.
Saat aku ingin bersuara tiba-tiba pintu tertutup. Ini jadi mau kuenya emak gue
apa enggak sih? Kesal, aku pun langsung beranjak pulang.
“Kok kotaknya masih di kamu?” suara
milik Ibu langsung menyapaku saat kakiku menginjak lantai ruang tamu.
“Tetangganya nggak mau.” Jawabku santai
sambil mencoba melanjutkan permainan game
yang tadi sempat terhenti.
Plak ! Ibu memukul kepalaku keras.
“Ibu…” aku merengek kesakitan.
“Apa hah? Kamu itu kalo disuruh emang
nggak pernah bener.” Ibu memarahiku.
“Tapi kan…” Saat aku ingin membalas,
tiba-tiba terdengar suara pintu rumahku diketuk.
“Bukain tuh.” Ibu menyuruhku sebelum ia
berlalu menuju dapur. Dengan malas aku berjalan menuju pintu.
“Malam, Kak. Selamat datang di sini.”
Gadis berantakan tadi datang ke rumahku. Tidak. Dia tidak berantakan seperti
tadi. Dia terlihat manis dengan bando kelinci di kepalanya.
***
Desember, 2014
Aku tersenyum mengingat kejadian konyol
itu. Sejak saat itu dia terlihat selalu membuntutiku kemana saja. Dia bahkan
mendaftar di SMA di mana aku bersekolah dan menjadi adik kelasku. Memilih
jurusan yang sama denganku saat dia naik ke kelas 11. Memilih kantin yang sama
yang membuat kita selalu bertemu. Memilih kamar mandi dekat kelasku yang jauh
dari kelasnya. Mengambil ekstrakulikuler yang sama denganku meski aku tahu dia
sama sekali tak punya minat ataupun bakat di situ. Membuatku merasa tak nyaman
dengannya dan memutuskan mencari pacar dan berharap dia mulai menjauhiku.
Awalnya memang dia menjauhiku, namun
saat tahu bahwa teman-teman sekelasku bilang bahwa mereka menyukainya, ada
perasaan tak suka dalam hatiku. Aku mulai bosan dengan pacarku dan berpikir
bahwa gadis itu terlihat semakin cantik saja. Aku juga tak ingin ada yang
mendekatinya. Saat sahabatku satu-satunya berkata dia ingin menyatakan cinta
padanya, aku langsung melarangnya. Berkata bahwa dia adik kesayanganku dan tak
boleh ada yang menyakitinya. Dia gadis yang berhasil membuat persahabatanku
renggang.
Tak hanya sampai di SMA saja. Saat tahu
aku kuliah di Universitas Indonesia, dia juga mengikutiku ke sini. Meski kali
ini beda jurusan setidaknya fakultasku dan fakultasnya berdekatan. Tapi
sialnya, keadaan sekarang sama saja saat SMA. Aku sudah punya pacar, dan gadis
ini terlihat semakin cantik saja.
Suara lenguhannya mengalihkan
perhatianku. Ku lirik jam weker di meja komputerku. Jam menunjukkan pukul 12
malam. Hujan masih saja turun ke bumi, meski tak sederas tadi malam.
“Bangun…” Aku mencoba membangunkannya.
Di dekatku sudah ada segelas jus jeruk yang sengaja kusiapkan tadi. Dia
menggeliat sebelum akhirnya bangun.
“Nih..” Aku memberikan jus jeruk itu
padanya. “Biar lo nggak pusing.” Kataku singkat. Dia meminumnya perlahan.
“Semalem gue diem karena elo terlihat
menyedihkan.” Aku mulai angkat bicara. “Tapi sekarang gue mau minta penjelasan.
Apa yang ngebuat lo ke sini dan ngabisin minuman punya gue?”
Dia melirikku sebentar. “Minuman nggak
enak gitu dibeli.” Dia menjawab singkat sambil mempoutkan bibirnya. Please, jangan lakuin itu di sini. Di
kamar gue saat hujan sedang turun dan keadaan sepi. Gue bisa mikir macem-macem
nih.
Dia menyerahkan gelas yang sudah tak
berisi padaku. Aku mengambilnya sambil terus memandanginya meminta penjelasan.
Dia tetap tak mau menjawab. Matanya lebih memilih memandang jendela kamarku
yang berembun karena hujan dibanding diriku. Gue lebih ganteng daripada tuh
jendela kali.
“Ayah…” Aku memandangnya saat dia
bersuara lirih. “Sama Ibu… berantem lagi.”
Lagi? Huh ! Dasar orang dewasa tidak
tahu diri. Kenapa akhir-akhir ini orang tuanya sering sekali bertengkar.
“Kali ini lebih parah karena para
tetangga mulai ikut campur urusan ini.” Dia melanjutkan.
“Mereka bilang, Ibu selingkuh.” Satu
tetes air mata terlihat menetes melewati pipinya. “Dan bodohnya Ayah percaya
sama tetangga.” Aku menghela nafas.
“Dan nyebelinnya, Ayah bilang Ibu itu
selingkuhnya sama elo.” Tiba-tiba suaranya meninggi. Tangannya menunjuk tepat
ke arah wajahku.
Aku diam, sebelum akhirnya aku tertawa
mendengarnya. “Nggak masuk akal tahu nggak.”
Dia menurunkan telunjuknya. “Emang nggak
masuk akal. Tapi gara-gara elo sering main ke rumah gue dan Ibu nemenin elo
sampai larut malem bikin itu semua jadi masuk akal.”
Gue melotot. Bener-bener gila. Gimana
bisa gue dapet gosip selingkuh sama emak-emak di saat gue lebih pantes bersanding
dengan anaknya.
“Kenapa lo sering main ke rumah sih?
Bikin rumah tangga orang rusak aja.” Dia memarahiku kembali, dengan wajah imut
tentunya.
Aku diam tak menanggapi. Karena tak
mungkin aku menjawab jika aku sering main ke rumahnya hanya untuk melihat
wajahnya yang ternyata tak kunjung keluar dari kamarnya dan membuatku malah
mengobrol semalaman dengan ibunya.
“Lo tahu kan itu nggak masuk akal?”
Dia memalingkan wajahnya dariku.
“Liat orang yang lagi ngajak lo
ngomong.” Tegasku, membuatnya mau tak mau memandangku. “Jadi masalah nggak
masuk akal ini yang ngebuat elo malem-malem ke sini dan… dan ngabisin minuman
mahal gue?”
“Itu minuman haram.” Jawabnya ketus.
“Dan lo baru aja minum.” Balasku tak
kalah ketus.
“Gue khilaf.” Jawabnya singkat.
Kemudian keheningan pun terjadi. Tak ada
di antara kami yang mencoba bersuara. Hanya suara rintik hujan yang terdengar
bersahutan.
Saat diriku ingin beranjak dari sana,
dia bersuara. “Aku butuh seseorang yang disalahkan atas kehidupan keluarga gue
yang ada di ambang kehancuran.”
Aku memandangnya. “Sebenernya bukan Ibu
digosipin selingkuh sama lo yang jadi bahan pembicaraan tetangga. Tapi…” Dia
memandangku, matanya terlihat sayu. “Ayah bilang kalo aku bukan anak
kandungnya.” Air matanya kembali turun. Kali ini lebih banyak dari yang tadi.
Dan juga terdengar isakan darinya.
Aku mendekat, mencoba menenangkannya
dengan mengelus pundaknya pelan. “Dia bilang… Dia bilang ke gue kalo gue anak
haram. Gue… bukan anak kandungnya.” Isakannya semakin keras.
Dia mencoba menghentikan tangisannya.
“Gue nggak tahu apa gue bener anak haram atau bukan. Gue… Gue takut… Gue takut
kalo nantinya…” Aku memeluknya, menghentikan segala omongan yang belum sempat
diucapkannya.
“Itu nggak mungkin..” kataku lirih. Dia
melepas pelukanku. Memandangku dengan tatapan yang entah apa itu.
“Gimana bisa lo bilang itu nggak
mungkin?” Ku lihat bibirnya bergetar. “Lo sendiri kan yang bilang kalo gue
nggak punya kemiripan sama sekali sama ayah. Dan juga gue beda dari adik-adik
gue.”
Dia mengungkit hal ini kembali. Ejekan
yang selalu kulontarkan saat aku mulai kesal padanya. Aku tak tahu jika ejekan
ini akan berdampak buruk baginya.
“Biarkan itu menjadi rahasia.”
“Maksudnya?”
“Entah itu hanya gossip atau benar
terjadi. Kau hanya perlu percaya. Percaya bahwa semua akan baik-baik saja.”
Keheningan kembali terjadi. Hujan malam
ini mencoba mengaburkan suaraku. Membawanya pergi bersama angin malam. Mencoba
menguatkan seorang gadis yang tengah mengalami kerapuhan. Meski ia terlihat
bahagia selama ini, tapi malam ini ia
terlihat rapuh. Memang benar kata orang jika ibu-ibu yang sedang kumpul
bergosip bisa lebih kejam dibanding film pembunuhan manapun. Terbukti dari gadis
yang tengah berada di hadapanku sekarang. Omongan tak jelas dari mereka
berhasil membuatnya hancur.
Ungaran,
24 Desember 2014
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar