MAKALAH
FOLKLORE
: PROSA RAKYAT
‘AIR
KAROMAH’ SENDANG KALIMAH TOYYIBAH’
Disusun
Oleh :
Is’miatun
Hik’mah (2111414007)
Dosen Pengampu :
Drs. Muh. Doyin,
M.Si.
Bayu Aji
Nugroho, S.S.
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2015
KATA PENGANTAR
Puji
dan syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan
karunia-Nya kepada kami, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul “folklore : Prosa Rakyat : ‘Air
Karomah’ Sendang Kalimah Toyyibah” ini dengan lancar.
Penulisan
makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas yang diberikan oleh
dosen. Makalah ini ditulis dari hasil penyusunan data-data sekunder yang
penulis peroleh dari buku panduan yang berkaitan dengan materi pembelajaran.
Serta infomasi dari media masa yang berhubungan dengan materi, juga wawancara
singkat dari warga yang ada.
Tak
lupa kami ucapkan terima kasih kepada dosen pengajar atas bimbingan dan arahan
dalam penulisan makalah ini. Juga kepada rekan-rekan mahasiswa yang telah
mendukung sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat waktu. Penulis
berharap, dengan membaca makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua,
dalam hal ini dapat menambah wawasan kita mengenai “Folklore : Prosa Rakyat : ‘Air Karomah’ Sendang Kalimah Toyyibah”
khususnya bagi penulis.
Kami
menyadari bahwa makalah ini memang masih jauh dari kata sempurna, untuk itu
kami dengan senang hati menerima kritik dan saran yang dimaksudkan untuk
penyempurnaan makalah ini.
Semarang,
Juni 2015
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Folklore merupakan suatu tradisi yang disebarkan dan diwariskan secara turun temurun.
Meskipun pada dasarnya semua jenis folklore disebarkan melalui lisan, folklore
itu sendiri dibagi menjadi tiga, yaitu folklore lisan, sebagian lisan, dan
bukan lisan. Folklore yang akan saya bahas kali ini masuk ke dalam folklore
lisan prosa rakyat.
Prosa
rakyat atau dalam pengertian secara luas dalam folklore yang dijabarkan oleh
William R. Bascom (dalam Danandjadja, 1984) dibagi atas 3 golongan, yaitu
legenda, mitos, dan dongeng. Sejak dahulu
hingga saat ini cerita rakyat yang ada dan berkembang di masyarakat adalah
cerita yang secara turun temurun dari generasi sebelumnya, maka tidak menutup
kemungkinan apabila suatu kejadian ataupun kisah yang dialami pada saat ini,
diceritakan kembali secara berulang-ulang telah menjadi bagian yang tak bisa
terpisah dari sekelompok masyarakat sehingga menjadi cerita rakyat di masa
mendatang. Di setiap daerah, negara atau kebudayaan sekalipun memiliki suatu
cerita rakyat yang tersendiri dan masing-masing berbeda.
Di suatu desa bernama Nyatnyono, Ungaran, Kabupaten Semarang,
muncul sebuah mitos mengenai Air Karomah Sendang Kalimah Toyyibah yang beredar
di masyarakat luas terutama masyarakat sekitar. Mitos tersebut memiliki
pengaruh yang besar bagi masyarakat baik dari segi ekonomi maupun keyakinan.
Oleh karena itu, akan dijelaskan lebih lanjut mengapa Sendang tersebut memiliki
pengaruh yang cukup signifikan.
1.2.
Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan mitos?
2. 2. Bagaimana mitos mengenai Air Karomah Sendang Kalimah
Toyyibah tersebut?
3. 3. Apa fungsi dari mitos Air Karomah Sendang Kalimah
Toyyibah?
1. Mengidentifikasi pengertian mengenai mitos.
2. Menganalisis cerita mitos mengenai Air Karomah
Sendang Kalimah Toyyibah.
3. Mengetahui fungsi dari mitos Air Karomah Sendang
Kalimah Toyyibah.
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian mitos
Mitos aadalah cerita suatu bangsa mengenai dewa dan
pahlawan zaman dahulu, mengandung penafsiran tentang asal-usul semesta alam,
manusia, dan bangsa tersebut mengandung arti mendalam yang diungkapkan dengan
cara gaib. (menurut KBBI)
Menurut Lukens (Danandjaja, 2002 : 172) mitos
merupakan sesuatu yang diyakini suatu bangsa atau masyarakat tertentu yang pada
intinya menghadirkan kekuatan-kekuatan supranatural. Mitos sering dikaitkan
dengan cerita tentang berbagai peristiwa dan kekuatan, asal-usul suatu tempat,
tingkah laku manusia, atau sesuatu yang lain.
Mitos merupakan salah satu unsur dalam suatu religi
yang menjadi dasar kehidupan sosial dan budaya manusia (Twikromo, 2000 : 5).
Mitos lahir dan berkembang dalam masyarakat yang tersebar di berbagai pelosok
Nusantara.
Ada sebuah mitos di daerah Ungaran, Kabupaten
Semarang yang menarik untuk diteliti lebih lanjut yaitu mengenai cerita asal
mula Sendang Kalimat Toyyibah yang ada di Makam Sultan Hasan Munadi, desa
Nyatnyono. Hal yang mendasari cerita tersebut sangatlah menarik, yaitu sebuah mukjizat yang diberikan kepada Allah.
Sendang berada tepat di samping Masjid Waliyullah tersebut bagi warga sekitar
desa Nyatnyono juga memiliki pengaruh yang besar dalam berkembangnya agama
Islam di daerah yang dahulunya hanya menyembah patung dan semacamnya. Untuk
cerita lebih lanjut, saya menyajikan 3 cerita yang didapatkan dari hasil
wawancara dengan warga yang ada.
1.
Nama : Bapak Achmadi
Umur :
45 tahun
Agama :
Islam
Pekerjaan :
Juru kunci dari Sendang Kalimah Toyyibah
Isi Cerita :
Sunan
Hasan Munadi merupakan salah satu Wali yang melakukan penyebaran agama Islam di
desa Nyatnyono. Zaman dahulu, warga desa Nyatnyono masih belum mengenal agama
Islam. Mereka masih melakukan penyembahan pada batu, kayu, patung dan lain
halnya.
Sunan
Hasan Munadi yang berasal dari Kerajaan Demak, awalnya hijrah ke daerah Selatan
(Ungaran) dalam rangka untuk mengejar sisa-sisa musuh Majapahit yang
bersembunyi di sana. Melihat bagaimana kehidupan warga desa yang masih diliputi kegelapan, hati Sunan
Hasan Munadi pun tergerak untuk mengislamkan warga Nyatnyono.
Suatu
ketika, Sunan Hasan Munadi sampai di Gunung Suralaya untuk bertapa memohon
kepada Allah SWT agar perjuangannya di sana bisa sukses dan lancar. Setelah
kira-kira 100 hari beliau bertapa di Gunung Suralaya, beliau bangun dari
pertapaannya dan melihat bayangan gambaran masjid di benaknya. Beliau kemudian
berpikir untuk membangun masjid terlebih dahulu sebelum pergi dari desa
tersebut. Keinginan yang muncul dari bayangan tersebut, yang dalam istilah jawa
dikatakan lagi menyat wis ana (baru
bangun sudah ada), yang kemudian membuat desa tersebut dinamai Nyatnyono.
Bertahun-tahun
setelah masjid tersebut jadi, terjadi kerusakan yang cukup parah di masjid
tersebut. Para warga yang pun berbondong-bondong berinisiatif untuk
memperbaikinya. Dikarenakan masjid yang merupakan peninggalan dari wali, maka
warga bertekad untuk memperbaikinya sendiri tanpa meminta bantuan dari desa
lain.
Saat
tahap perbaikan masjid tersebut, warga menemukan sebuah sumber air di dekat
sana. Air tersebut mengali terus menerus tak ada habisnya, yang akhirnya
digunakan warga untuk kehidupan sehari-hari.
Melihat
air yang keluar tak pernah habis dan malah semakin hari airnya semakin banyak
bagai rejeki yang tak terhingga. Air yang melimpah tersebut membuat orang-orang
dari berbagai daerah datang untuk juga mengambil air tersebut dan mandi di
sana. Namun, air yang digunakan tak pernah ada habisnya malah semakin banyak.
Hal
tersebut membuat para warga berpikir bahwa ada hal gaib yang kemudian menyebar.
Mereka menyebut air tersebut suci karena berada di dekt masjid peninggalan sang
Wali. Orang-orang yang datang pun memiliki tujuan yang mulai beragam.
Ada
yang mengatakan mereka mengambil air atau mandi di sana untukmenyembuhkan
penyakit. Ada juga yang mengambil air untuk menyirami tanaman di lading yang
terkena hama. Hingga ada yang mengambilnya untuk keselamatan dalam menjalani
suatu hal penting (lomba, Ujian Nasional).
Ajaibnya,
mereka yang sudah divonis dokter hidupnya tidak dapat tertolong lagi, setelah
minum air di sana dan mandi menggunakan air tersebut, penyakit yang ada
ditubuhnya perlahan-lahan sembuh. Air yang digunakan untuk menyiram tanaman
tersebut, hasil panennya bagus dan berkualitas. Hal-hal ajaib tersebut, yang
membuat para warga sekitar kemudian menyebut air dari sendang itu merupakan air
suci yang dikeramatkan (air karomah).
Ada
syarat-syarat khusus yang harus dilakukan agar air tersebut memiliki karomah
atau kasiat bagi orang yang menggunakannya. Syaratnya, mereka tidak boleh
telanjang, saat mandi di Sendang Kalimah Toyyibah tersebut. Mereka juga wajib
membaca doa yang sudah ditentukan sebelum mandi di sana.
Doa
tersebut yaitu : Assalamu ‘alaika ya
nabiyallah khidhir balyan bin malkan ‘alaihis salam. La ila ha illallah (3x).
Asyhadu anal ilaha illalaah waasyhadu anna Muhammadar Rasulullah. Ila hadhoroti
waliyullah hasan munadi wa waliyullah hasan dipura. Allahumma sholli ‘ala
sayyidina Muhammad (3x).
Mereka
yang mandi di sana tanpa membaca doa tersebut terlebih dahulu, maka keinginan
atau tujuan yang mereka ingin capai tidak akan terjadi. Mereka hanya bagaikan
mandi air biasa saja.
Selain
ada syarat khusus, juga ada larangan/peringatan tertentu bagi pengunjung
Sendang Kalimah Toyyibah tersebut. Larangan itu ialah (1.) Dilarang mandi
dengan telanjang. Diharuskan pada mereka untuk memakai sarung atau kain penutup
tubuh merekaa saat mandi. (2.) Bagi wanita yang sedang Hadi, dilarang keras
untuk mandi di tempat tersebut. Namun, jika ingin mengambil air yang ada di
sana, sah-sah saja.
Bagi
mereka yang melanggar larangan atau peringatan tersebut maka akan ada suatu
kemalangan yang menimpa mereka. Kemalangan-kemalangan yang pernah menimpa orang
yang melanggar yaitu sepeti pingsan di tempat, kehilangan barang, bahkan sampai
menjadi gila. Meski begitu, tidak semua orang yang melanggar mengalami
kemalangan. Ada juga orang yang melanggar tetapi tidak apa-apa, tergantung
nasib orang tersebut.
Bagi
mereka yang ingin membawa pulang air dari sendang tersebut, ada tata cara
khusus yang harus dilakukan. Apabila air yang dibawa pulang tersebut digunakan
untuk hal apa saja yang bermanfaat atau untuk tawasul, maka diharuskan terlebih
dahulu membaca surah Al-Fatihah sebanyak 7 kali dan Salawat sebanyak 7 kali
agar karomah atau berkah.
2. Nama : Ibu Rochmi
Umur :
38 tahun
Agama :
Islam
Pekerjaan : Menyewakan sarung di sekitar Sendang Kalimah Toyyibah.
Isi Cerita :
Dahulu
kala, para warga ingin membuat sebuah masjid bersama dengan wali, Sultan Hasan
Munadi. DIkarenakan masjid tersebut merupakan masjid milik wali yang pertama,
maka dari itu para warga pantang untuk meminta bantuan dari orang lain.
Suatu
ketika sang wali berkata pada sang warga bahwa tak perlu meminta bantuan,
karena besok akan datang rezeki dari Allah berupa uang yang melimpah. Ajaibnya,
esoknya diketemukan sebuah kucuran air yang tidak diketahui sumbernya terus
menerus mengalir.
Air
tersebut muncul di bawah pohon dukun. Terus mengalir dan dijadikan warga
sebagai sumber kehidupan yang selanjutnya. Lama-kelamaan air tersebut terus
diambil, bukannya berkurang malah makin melimpah.
Keajaiban
air tersebut kemudian ditemukan oleh seseorang dari Jawa Barat. Beliau yang
tengah terserang penyakit itu datang untuk mandi dan minum di Sendang tersebut.
Entah keajaiban dari mana, penyakitnya langsung sembuh. Semenjak saat itu,
orang berbondong-bondong datang ke sana dengan berbagai permintaan yang
beragam.
3. Nama : Rusda
Umur :
19 tahun
Agama :
Islam
Pekerjaan : Mahasiswa (Pengunjung)
Isi Cerita :
Awal
mula ceritanya, dahulu warga sekitar ingin merehab Masjid yang ada di sana,
yang merupakan peninggalan dari Sultan Hasan Munadi. Masjid yang sering mereka
gunakan untuk salat kebetulan bocor saat hujan, jadi mereka semua berinisiatif
untuk memperbaikinya.
Lalu
beberapa orang dari warga menyuarakan hal tersebut kepada sesepuh desa Nyatnyono
atau kyai yang ada di daerah tersebut dan meminta bantuan kepada mereka. Kyai
tersebut menolak, mereka berkata Sultan Hasan Munadi itu seorang wali, maka
tidaklah baik jika memperbaiki masjid harus meminta bantuan dana dai orang
lain.
Dikarenakan
tidak bolehnya meminta bantuan dari sana-sini untuk membangun masjid, mereka
pun memutuskan untuk bermujahadah di makam Sultan Hasan Munadi dari isya hingga
subuh. Meminta bantuan dari Allah melalui wali agar diberi kemudahan.
Hari
berikutnya mereka mulai untuk memperbaiki masjid dengan dana seadanya. Mereka
bergotong-royong memperbaiki masjid. Saat mereka sedang bekerja, terdengar
suara air mengalir tak jauh dari sana. Mereka pun mendatangi sumber suara
tersebut.Ternyata, terdapat sebuah sumber air yang sangat banyak, namun tak
diketahui dimana sumber air tersebut dengan jelas. Karena sumber yang tidak
diketahui dan muncul tiba-tiba itulah, maka sendang ini disebut istimewa dan
dikeramatkan.
Kesimpulan cerita :
Ketiga
cerita yang disampaikan bisa dibilang salin melengkapi satu sama lain. Pada
intinya, ketiga cerita tersebut memiliki alur yang sama, yaitu berawal dari
perbaikan sebuah masjid. Namun karena kurangnya dana, mereka berusaha keras
untuk mencari cara lain selain meminta dana kepada orang lain. Saat mereka
sudah hampir hilang harapan, muncul sebuah bantuan dari Allah berupa air yang
terus mengalir tanpa ada habisnya. Dan ajaibnya lagi, air dari sendang tersebut
memiliki khasiat dapat menyembuhkan penyakit dan mengabulkan permintaan bagi
orang-orang yang mandi di tempat tersebut.
Peursen
(1988 : 36) mengemukakan ada 3 fungsi mitosyang harus diketahui, yaitu :
a) Menyadarkan
manusia tentang adanya kekuatan gaib di dunia lain. Melalui mitos manusia
dibantu untuk dapat menghayati daya-daya sebagai suatu kekuatan yang
mempengaruhi dan menguasai alam serta kehidupan sukunya. Fungsi ini masuk dalam
kategori Religius.
b) Memberikan
jaminan bagi masa kini yaitu ketentraman, keseimbangan, dan keselamatan, dalam
arti mengentaskan atau menghadirkan kembali suatu peristiwa yang pernah terjadi
dahulu. Fungsi ini masuk kategori Sosial.
c) Memberikan
pengetahuan tentang dunia, dalam arti mitos juga berfungsi sebagai perantara
antara manusia dan daya-daya kekuatan alaam. Fungsi ini masuk dalam kategori Pendidikan.
Cerita
mengenai Sendang Kalimah Tayyibah tersebut mempunyai pengaruh yang besar bagi
masyarakatnya, sehingga secara tidak langsung telah mempengaruhi tingkah laku
dan pola pikir penganutnya. Masyarakat menganggap bahwa makam Waliyullah Hasan Munadi adalah makan
para Wali Allah. Apabila seseorang berdoa di tempat tersebut, maka para Wali
juga ikut serta mendoakan dan doanya akan segera dikabulkan oleh Sang Maha
Kuasa. Salah satu perantaranya berada di Sendang Kalimah Tayyibah tersebut.
Dari Sendang tersebut, banyak manfaat yang muncul. Adapun fungsi dari Sendang
Kalimat Toyyibah tersebut antar lain :
1.
Fungsi
Religius
Seringkali
orang datang berbondong-bondong untuk melakukan padusan sebelum bulan Ramadhan. Selain itu, tak banyak juga orang
datang untuk melakukan mandi tobat setelah melakukan kesalahan besar.
Dilihat
dari uraian tersebut, dapat dikatakan bahwa Sendang Kalimat Toyyibah tersebut
memiliki fungsi Religius.
2.
Fungsi
Sosial
Terdapat
suatu acara ritual-ritual yang dilakukan oleh warga sekitar dalam memperingati
hari wafat dari sang Wali, Hasan Munadi. Ritual yang diadakan di Sendang
Kalimah Toyyibah tersebut merupakan pengikat tali silaturahmi antarwarga.
Masyarakat senantiasa begotong royon untuk mempersiapkan berbagai hal mengenai ritual peringatan tersebut.
Selain
itu, warga juga seringkali mengadakan pembersihan dan perbaikan Sendang saat
terjadi kerusakan. Hal tersebut membuktikan bahwa Sendang Kalimat Toyyiba
memiliki fungsi sosial.
3.
Fungsi
Budaya
Dilihat
dari segi budaya, Sendang Kalimah Toyyiba berperan penting sebagai suatu asset
budaya warga Ungaran, Kabupaten Semarang. Sebagai generasi penerus, hendaknya
kita menjaga asset budaya tersebut dn melestarikannya dengan baik.
4.
Fungsi
Pendidikan
Dari
Sendang Kalimah Toyyibah tersebut, kita dapat mempelajari bagaimana perjuangan
Sultan Hasan Munadi dalam menyebarkan agama Islam di desa Nyatnyono. Dari situ
banyak sekali pelajaran yang dapat kita ambil. Termasuk juga mitos mengenai
Sendang Kalimah Toyyibah yang dapat menambah wawasan mengenai folklor.
5.
Fungsi
Ekonomi
Adanya
Sendang Kalimah Toyyibah tersebut secara tidak langsung menjadi berkah bagi
kehidupan warga yang tinggal di sekitarnya. Banyaknya pengunjung yang datang
memunculkan kesempatan bagi warga sekitar untuk membuka warung makanan dan yang
lainnya. Selain itu, peraturan mengenai ‘tidak boleh mandi telanjang’ membuat
warga sekitar menyewakan sarung yang dapat digunakan sebagai penutup saat
pengunjung mandi.
Sendang tersebut
telah memunculkan lapangan pekerjaan baru bagi warga desa Nyatnyono. Juga, air
yang tak pernah habis dapat dimanfaatkan warga sebagai sumber air bagi
kehidupan sehari-hari.
PENUTUP
1.1. Simpulan
Mitos merupakan salah satu unsur dalam suatu religi
yang menjadi dasar kehidupan sosial dan budaya manusia (Twikromo, 2000 : 5).
Mitos lahir dan berkembang dalam masyarakat yang tersebar di berbagai pelosok
Nusantara. Mito situ sendiri merupakan salah satu kajian folklore lisan.
Salah satu mitos yang berkembang di Ungaran,
Kabupaten Semarang adalah Sendang Kalimah Toyyibah. Cerita
mitos mengenai Sendang Kalimah Toyyibah ini berawal dari Sunan Hasan Munadi
yang hijrah ke Ungaran dan membangun masjid di sebuah desa yang kemudian dinamai
Nyatnyono. Air yang ada di Sendang itu tak pernah habis dan memiliki khasiat
tertentu bagi orang-orang yang menggunakannya. Hal tersebut menjadikan
orang-orang mengkeramatkan tempat tersebut dan menyebutnya airnya sebagai air
suci. Ada beberapa hal yang harus dilakukan agar tujuan atau keinginan yang
mereka minta terkabul. Juga ada larangan yang tidak boleh dilakukan jika tidak
ingin terjadi suatu hal yang buruk. Sampai sekarang, air dari Sendang Kalimah
Toyyibah tersebut sudah menguntungkan berjuta-juta orang yang memakainya.
Dari cerita mitos tersebut, muncul banyak sekali
fungsi yang muncul. Antara lain fungsi religi, sosial, budaya, pendidikan,
sampai ekonomi.
Sebagai masyarakat yang mempercayai adanya mitos,
sehendaknya kita melestarikan mitos tersebut yang di jaman sekarang ini sudah
tidak lagi eksis di kehidupan masyarakat modern. Padahal, banyak sekali hal
yang bisa didapatkan dari mempelajari mitos tersebut. Selain itu, sebagai
masyarakat yang baik pula, kita hendaknya menjaga asset budaya yang ada di
sekitar kita, sehingga tetap lestari.
DAFTAR PUSTAKA
Danandjaja, James. 2002. Folklore Indonesia Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-lain. Jakarta :
Pustaka Utama Grafiti.
Peursen, Van. 1976. Strategi Kebudayaan. Jakarta : Kanisius.
Warga sekitar daerah Nyatnyono dan pengunjung.____. Sejarah Air Karomah Sendang Kalimah
Toyyibah. Ungaran :____.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar