-WARNING ! Review 50% Curhat 50%-
Bukan hanya film saja. Bahkan drama atau orang Indonesia biasa menyebutnya sinetron pun juga ceritanya kebanyakan diambil dari cerita novel. Contohnya : Curahan Hati Seorang Istri, Tujuh Manusia Harimau, dan lain sebagainya.
Mungkin kebanyakan orang akan tertarik sekali untuk menonton film tersebut akan seperti apa karena setidaknya –bagi mereka yang sudah membaca novelnya- sudah tahu bagaimana isi cerita. Bagaimanakah epiknya cerita yang mereka baca. Seluk beluk mengenai tokoh dalam novel. Berbagai konflik. Hingga adegan sekecil apapun mereka akan ingat. Akhirnya, ekspektasi yang tinggi mengenai film based on novel terngiang-ngiang selalu di kepala.
Saat muncul berita mengenai sebuah film baru based on novel, konsep mengenai artis siapa yang pantas memerankan tokoh A dan artis siapa yang pantas memerankan artis B pun tak luput dari pandangan. Secara, novelnya kita sukain banget gitu loh… Tapi kenyataannya… Nihil !
Sejauh ini film based on novel yang pernah ku tonton tak pernah mencuri hatiku lebih dari novelnya sendiri. Ada alasan tersendiri yang membuat diriku mengatakan mengapa film based on novel itu ‘nihil’. Kebanyakan adegan yang ku inginkan menjadi sorot utama dalam film tersebut tidak ada. Hilang malah. Dan itu membuatku kecewa tak terkira hingga mengumpat tak jelas seusai menonton film tersebut.
Secara, aku sudah menghabiskan tiket seharga Rp 35.000 tetapi adegan-adegan yang ku sukai dalam novel tidak ada dalam film. Atau jika pun ada itu tak seapik dalam anganku. Juga sorot kamera. Sebagai contoh, aku ambil sample film “Remember When” yang juga diangkat dari novel berjudul sama. Sudah lama sih, tetapi entah mengapa aku ingin membahas film ini sekarang.
Waktu itu aku masih duduk di bangku SMA, saat aku membaca novel karangan Wina Efendi tersebut. Namanya anak SMA pastilah novel ringan tentang percintaan seakan menjadi makanan sehari-hari untuk menghabiskan waktu luang. (Apalagi yang jomblo seperti saya). Dan setelah habis membaca novel tersebut yang tak perlu membutuhkan waktu lama, aku langsung menobatkan novel “Remember When” tersebut menjadi novel favorit.
Gimana gambaran mengenai tokoh Freya yang cukup membenci dirinya. Bagaimana gambaran bandelnya Adrian. Gimana patuhnya Moses akan peraturan. Dan gimana sempurna dan centilnya Gea. Gimana konflik yang bisa bikin aku baper (bawa perasaan) karena cinta segiempat itu. Pokoknya, itu semua tidak bisa aku hapus gitu aja dari otakku. Jalan ceritanya, penggambaran karakter tokoh, sampai konflik yang muncul dalam cerita.
Hingga pada 2014, muncul berita bahwa novel tersebut akan difilmkan. Kalian pasti tahu kan bagaimana excited-nya aku pas tahu novel kesukaan aku mau diangkat ke layar lebar. Otomatis, aku orang yang tipe O yang tidak bisa mengontrol kebahagiaannya dengan baik spazzing sepanjang hari untuk tahu perkembangan mengenai film tersebut.
Pada saat pihak produser meluncurkan nama tokoh yang akan memerankan keempat tokoh utama dalam film tersebut, aku langsung down. INI SERIUS YANG MAIN MEREKA? Aku tidak setujuuuuuuu!
Yang berperan sebagai Adrian bukan tipe cowok bandel. Yang berperan sebagai Moses terlalu ganteng dan kurang cupu. Yang mainin karakter Gea juga tidak secantik yang ada di bayanganku. Hanya Freya, yang menurutku sudah cocok diperankan Michelle Ziudith, meski sampai sekarang aku masih prefer Maudy Ayunda yang mainin.
Semua tokoh pemainnya menurutku kurang cocok dengan karakter tokoh yang ada. Menurutku, Adipati Dolken lebih bagus buat berakting sebagai si bandel Adrian daripada si Maxime Bouttier. Moses bagusnya diperankan oleh Afgan. Dan si cantik Gea harusnya diperankan oleh Kimberly Ryder daripada Stella Cornelia yang centilnya nggak dapet banget.
Meski begitu, para pemeran film yang kurang aku sukai tidak lantas membuat diriku untuk tak menonton film. Kali aja jalan ceritanya tetep bagus dan bikin mellow mengharu biru jadi harus tetep nonton. Hingga akhirnya, aku tetap nekat nonton.
Pas sudah selesai nonton film tersebut, aku kecewa. Akting para artisnya kurang wah, terutama si Stella Cornelia yang berperan sebagai Gea. Karakternya tidak melekat dengan baik pada mereka. Dan adegan tembak menembak yang aku inginkan ada di filmnya malah tidak muncul. Dan perseteruan mengenai kisah cinta terlarang antara Adrian dan Freya kurang nancep di dada. Ini semua kayak, yaudah gitu aja. Flat, datar dan kurang meninggalkan kesan. Numpang novel best seller aja.
Inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa membaca novelnya lebih asyik ketimbang nonton filmnya. Karena ekspekstasi tak sesuai realita. Kita -yang kebanyakan- sudah terlanjur jatuh cinta dengan novelnya cenderung mematok ekspektasi yang cukup tinggi bagi film yang akan dibuat. Alhasil, kebanyakan kecewanya dibanding puasnya.
Meski begitu, bukan berarti film based on novel semuanya jelek. Ada beberapa film yang memang pantas diberi apresiasi tinggi. Contohnya “Sang Penari” yang diangkat dari novel “Ronggeng Dukuh Paruh”. Aku juga tidak men-judge film “Remember When” 100% buruk. Tidak. Ada beberapa poin yang menurutku bagus. Seperti pengambilan gambarnya yang bersih dan tidak terpaku pada frame yang sama. Juga adegan saat Mama Adrian meninggal cukup mengena di hati. Selain dari itu, mungkin belum.
Tertanda
Kaiyang










Tidak ada komentar:
Posting Komentar