I am searching for the one I can’t see anymore. I am listening for the one I can’t hear anymore.i can see the things I couldn’t see. I can hear the things I couldn’t hear. You’ve given me this power ever since you left me right here. –Zhang Yixing-Yixing-
***
Kelopak matanya bergerak-gerak perlahan. Diikuti gerakan jari-jari tangannya yang lemah. Kelopak mata it uterus dan terus saja bergerak. Berusaha membuka sempurna. Terus dan terus bergerak hingga akhirnya kelopak yang menutupi indera penglihatan itu pun terbuka sempurna.
Matanya terbuka dan langsung disambut kilauan cerah yang memekakkan mata. Mata itu tertutup kembali akibat gagalnya penyesuaian dengan cahaya luar. Kelopak itu kembali bergerak sebelum akhirnya terbuka kembali dan mulai menyesuaikan cahaya terang yang ada.
Ia menatap sekeliling. Merasa asing taka sing dengan tempat tersebut. Otaknya langsung mulai bekerja untuk mengetahui alasan mengapa ia bisa berada di tempat tersebut. Apa yang telah terjadi sebelumnya.
Pening menyerang kepalanya. Tangan kirinya bergerak untuk memegangi dahinya yang sakit. Namun, sebuah selang infuse menghalangi gerak tersebut. Pening semakin hebat menghampirinya saat ia mulai berfikir keras dimanakah ia sebenarnya.
Ia mengedipkan matanya berkali-kali untuk mengurangi rasa pening yang menyerang. Ia kembali menata sekeliling. Hingga…sebuah tangan mungil langsung membekap mulutnya. Jeritan yang seharusnya ia keluarkan beberapa detik yang lalu langsung tertelan kembali.
“Jangan berteriak. Amandelmu masih belum sembuh total.” Bisik gadis sang pembekap mulut tersebut. Lelaki mungil itu hanya mengangguk pelan meski tak mengerti apa maksud perkataan gadis asing yang ternyata berada di ruangan yang sama dengannya.
Dirasa tak akan berteriak, gadis itu menjauhkan tangannya dari mulut lelaki itu. Lalu, mata gadis itu menelusuri seluruh bagian tubuh lawan bicaranya dengan seksama. Lelaki kecil itu pun merasa risih langsung memalingkan mukanya ke arah lain.
“Kau tahu? Beberapa jam yang lalu, waktumu tinggal di bumi hampir saja habis jika saja aku tidak datang menolongmu.” Lelaki itu menaikkan sebelah alisnya, kembali tak mengerti dengan apa yang dbicarakan gadis itu.
“Ayahmu menangis tersedu di depan ruang operasi karena tidak menemukan darah yang cocok untuk mengganti darahmu yang hilang. Hingga akhirnya aku datang.” Ia menoleh dan menatap gadis itu bingung. Sekarang, apa lagi hal aneh yang dibicarakan gadis kecil ini? Jika dilihat, dia tidak jauh dengan lelaki itu. Sekitar… 10 tahun?
Gadis itu memajukan wajahnya hingga berjarak beberapa senti saja dengan lelaki tersebut. “Bisa dibilang, aku malaikat penolongmu.” Bisiknya amat lirih. Anehnya, suara itu terdengar lembut di telinganya.
Gadis yang tak diketahui darimana asalnya itu kembali menjauhkan diri dari lelaki yang sejak tadi diam. Ia tersenyum tipis sebelum mengambil langkah pergi dari ruangan tersebut. “Ah iya…” Ia berhenti saat baru berjalan 3 langkah. “Hai Zhang Yixing. Namaku Huang Yilei. Karena kita seumuran, panggil aku Yilei.”
“Baik-baiklah padaku, karena aku adalah malaikat penolongmu.” Ia mengedipkan sebelah matanya sebelum benar-benar berlalu pergi. Lelaki mungil itu sempat mendengar gerutuan sang gadis mengenai hemophilia. Cih ! Kata aneh apalagi itu.
Yixing –lelaki mungil tersebut- mengambil nafas dalam dan menghembuskannya singkat. Ia tak tahu yang baru saja terjadi dengannya apakah hal nyata atau bukan. Sepertinya hidupnya benar-benar hampir mendekati maut. Ia kira ia baru saja bertemu malaikat sungguhan. Ternyata… gadis itu hanyalah gadis pengganggu selama ia menginap di rumah sakit.
___
“Ah… sejuknya.” Yixing kecil menoleh ke sumber suara, ekspresinya langsung berubah jengah melihat gadis itu -yang mendeklarasikan dirinya sebagai penyelamat Yixing- duduk di sebelahnya.
“Taman rumah sakit memang tempat yang paling nyaman di sini.” Gadis itu berbisik di telinga Yixing, tak mempedulikan ekspresi yang sama yang lelaki itu tujukan padanya. “Kau tahu kenapa?”
Hening terjadi cukup lama.Yixing tak lagi merasakan hembusan nafas Yilei di sekitar telinganya. Penasaran, ia menoleh. Gadis itu tengah memandang seseorang dari kejauhan dengan tatapan yang sulit diartikan. Rindu dan marah bercampur menjadi satu. Yixing mengikuti arah pandangnya.
“Dia Ayahku. Seorang dokter yang cukup handal di bidangnya. Waktunya lebih banyak dihabiskan di rumah sakit ketimbang di rumah.” Yixing mengalihkan pandangannya pada Yilei. Tiba-tiba hatinya miris melihat tatapan matanya yang berbeda dari biasanya.
“Aku selalu berpura-pura sakit agar bisa menginap di rumah sakit. Karena hanya alasan itulah aku bisa melihat Ayah lebih lama. Hingga suatu malam, Ayah yang jarang sekali mengunjungi kamarku, tiba-tiba datang.” Yilei menoleh dan menatap Yixing dalam. “Aku senang sekali, mengira Ayah akan memiliki waktu luang untuk bermain denganku sebentar saja.”
Ia kembali mengalihkan pandangannya.menerawang langit sore yang sedikit mendung, namun menyejukkan. “Tapi…dia datang untuk meminta darahku. Ayah rela menyalahi prosedur demi untuk menyelamatkan seorang pasien laki-laki yang memiliki tipe darah yang sama denganku.” Yixing menunduk, tahu betul siapa laki-laki yang Yilei maksudkan.
Yilei kembali memandang Yixing. Tanpa sadar, setetes air jatuh dari pelupuk matanya. “Aku sadar. Ayah lebih mencintai pekerjaannya dibanding aku.” Setetes lainnya jatuh megikuti tetes pertama. Matanya sembab. Nafasnya tak beraturan karena menahan tangis agar tak pecah di hadapan Yixing. Ia menunduk dalam, menyembunyikan tangisnya dari Yixing yang sayangnya sudah dilihat oleh lelaki itu.
Tangan Yixing perlahan terangkat dan bergerak maju. Hingga tangan mungil itu menyentuh pipi basah Huang Yilei. Perlahan, Yixing mengusap air mata itu dengan tangannya. Yilei mendongak, disambut senyuman hangat milik Yixing.
“Mau bermain denganku, malaikat penolong?” bisik Yixing lirih.
***
Seoul – 2015
“Lay…Lay…” Xiumin menggoyang tubuh Lay pelan. Matanyamasih terpejam, namun keringat dingin dan ekspresi ketakutan yang ada di wajah tidurnya membuat Xiumin khawatir. “Lay… Lay…” Xiumin kembali menggoyang tubuhnya pelan. Apa lelaki ini mimpi buruk kembali?
“Lay…” Xiumin kembali menggerakkan tubuh Yixing. Lelaki itu kini mulai menggumam tak jelas. Xiumin semakin khawatir dibuatnya. “Yixing…” Xiumin berteriak keras untuk membangunkannya. Ia langsung bernafas lega melihat mata Yixing yang terpejam kini terbuka perlahan. Buru-buru ia menyodorkan segelas air padanya.
Lay meneguknya perlahan. “Kau mimpi buruk?” Yixing mengembalikan gelas tersebut kembali, menggeleng menjawab pertanyaan Xiumin. “Aniyo, hyung. Bukan mimpi yang buruk karena aku bertemu Yilei di sana.” Jawabnya lemah.
Xiumin hendak membuka suara, bertanya mengenai maksud keringat dingin dan gumaman takut yang ia timbulkan jika saja dirinya tak melihat Lay yang mulai beranjak dari ranjangnya. “Kau mau kemana?” Ia langsung mengganti pertanyaannya.
“Studio.” Ia menjawab lirih sambil sibuk memakai topi dan jaketnya. “Lagi?” Xiumin berkata dengan nada khawatir. “Kau baru saja pulang dari sana jam 3 tadi pagi, dan kau mau kesana lagi?”
“Aku pergi dulu, hyung.” Lay tak mendengarkan omelan dari anggota tertuanya dan berjalan keluar. Menghiraukan teriakan marah campur khawatir yang Xiumin lontarkan padanya.
Lay berjalan perlahan di kesunyian fajar. Matahari bahkan belum mau menampakkan sinarnya, tetapi lelaki itu terus saja berjalan menuju Studio kecil yang Managemen berikan padanya. Lay mengeratkan jaketnya untuk mengurangi angin dingin yang menerpa tubuhnya.
Tak ada seorang pun yang ia temui di jalan. Justru itu yang membuatnya lega. Setidaknya, ia tak harus berakting ramah dan sopan di depan mereka. Hatinya sedang buruk untuk melakukan hal itu.
Langkah Lay terhenti di depan gedung Studio tersebut. Perlahan ia menoleh dan melihat sebuah tumbuhan yang tumbuh di dekat pintu masuk. Senyum tipis muncul di wajahnya melihat pohon Akasia yang mulai memunculkan bunganya itu. Setelah puas melihat bunga tersebut, ia kembali melangkahkan kakinya.
***
Changsa – 2006
“Gambar apa itu?” Yixing –yang terlihat tampan dengan seragam sekolah menengah pertamanya- bertanya dengan dahi mengerut mengenai gambar yang ditengah Yilei buat di buku sketsanya.
“Akasia.” Ujarnya singkat. Masih sibuk memberi arsiran di sana sini untuk menyempurnakan gambarnya. “Akasia?” Yixing mengulangi jawaban Yilei dengan nada tanya.
“Iya, akasia. Meski ia hanya termasuk golongan semak-semak, namun ia memiliki bunga yang indah.Dan kau tahu apa arti bunga akasia?” Yixing mengangkat bahunya, tak tahu menahu perihal bunga kuning yang digambar Yilei tersebut.
Yilei meletakkan pensilnya. Menoleh pada Yixing dan menatapnya dalam. “Cinta tersembunyi.” Jawabnya lirih. Dan terasa amat dalam di pendengaran Yixing. Lelaki itu merasa suasana kelas yang ramai tiba-tiba menjadi sunyi. Hanya ada mereka berdua, bertatapan mata satu sama lain.
Seketika itu juga, Yixing lupa bagaimana cara bernafas dengan benar. Dadanya berdegub kencang. Ia tak tahu entah karena apa. Hingga… “Huh…” Ia menghembuskan nafas kencang. Suasana ramai kelas mulai menyapa indera pendengarannya kembali. Ia memegangi kedua lengannya, merinding dengan barusan yang terjadi.
“Cinta tersembunyi?” Yilei mengangguk lemah. “Kau sedang suka diam-diam dengan seseorang ya? Hayooo…” Ia mulai menggoda Yilei. Mengabaikan sedikit debaran yang tadi terjadi. Ya, hanya sedikit debaran.
“Siapa dia? Ayo katakan. Apa dia si anak baru kelas sebelah?” Yilei merengut sebal. Rengutan itu lantas tak membuat Yixing berhenti menggodanya. Hingga gadis tersebut beranjak pergi meninggalkan Yixing.
***
Lay menunduk dalam. Meletakkan kepalanya di atas piano yang beberapa menit tadi ia mainkan. Pensil yang ada di genggamannya perlahan terlepas. Menggelinding tak tentu arah.
Ia menjambak rambutnya keras. Benci pada dirinya. Benci karena meski bertahun-tahun telah berlalu, ia tak bisa juga menciptakan sebuah lagu. Sebuah lagu special yang Yilei minta darinya. Semua lagu yang ia ciptakan, berakhir di tempat sampah. Otaknya buntu.
Perlahan Lay mengangkat kepalanya. Melirik jam kecil di atas piano yang ia pakai. Jarum pendek menunjukkan pukul 8. Ia tersenyum miris. Tiga jam duduk di depan piano, lagu yang ia buat selama seminggu itu tak kunjung ia dapatkan rasanya. Semua berakhir biasa saja.
Cklek ! Lay menoleh saat mendengar suara engsel pintu. “Hyung, kau di sini juga.” Seru Chanyeol melihat dirinya. Ia melepas topinya dan berjalan mendekat. “Kau masih menyelesaikan lagumu?” Lay mengangguk lemah.
“Tapi tak ada yang bagus. Aku menghancurkannya.” Ucap Lay lemah. Chanyeol yang tengah mengambil duduk di depan komputer sempat menoleh sebentar padan Lay. “Mau ku beri saran, hyung.”
“Jangan buat lagu yang bagus.Tapi buatlah lagu yang kau suka.” Sarannya. “Kau menyukai bunga akasia kan? Coba buat lagu sambil memikirkannya. Maka kau akan mendapatkan lagu yang kau suka.”
“Atau… gadis yang kau sukai mungkin?”
***
Changsa – 2008
Yilei yang tengah berjongkok di halaman belakang rumahnya, mengulum senyum bahagia. Melihat Yixing tengah sibuk menanam tunas akasia untuknya. Seragam SMA terlihat kotor di sana sini terkena tanah. Dasinya sudah tak berbentuk. Membuat senyum Yilei semakin lebar.
Sementara Yixing merengut sebal melihat senyum gadis itu. “Apa kau senang sudah menjadikan sahabatmu seperti tukang kebun?” gumam Yixing sebal. Yilei tertawa perlahan. “Apa aku harus menunggu 2 tahun lamanya untuk melihatmu menanamkan sebuah pohon akasia untukku?”
Yixing menepuk-nepuk tangannya yang kotor. Ia berdiri dari duduknya lalu berjalan mendekati Yilei. “Dua tahun lalu bunga akasia hanyalah sejenis semak-semak yang tumbuh di hutan. Tak ada yang menjualnya.”
“Tunas ini pun aku harus melakukan perjalanan ke Beijing untuk mendapatkannya.” Ucapnya sedikit kesal. Yilei malah tertawa dibuatnya. Ia ikut berdiri dan menyampirkan blazer milik Yixing ke pundaknya. “Kalau begitu… Aku akan merawatnya dengan baik, Tuan Zhang.”
“Harus.” Tegas Yixing kembali. “Karena aku juga melewatkan jam latihan basketku karena pohon akasia itu.” Yixing kembali memakai blazernya. Meraih tas nya dari tangan Yilei dan bersiap pergi. Ia ada latihan basket sore ini. Ada turnamen yang harus diikutinya akhir bulan nanti.
“Yixing…” Lelaki itu berhenti berlari. Menoleh saat Yilei memanggilnya. “Jangan sampai terluka.”
Yixing tersenyum mendengarnya. Kalimat yang selalu dikatakan Yilei saat ia akan berangkat latihan basket. Gadis itu bahkan sempat memarahinya semalaman karena memilih ekstrekulikuler tersebut. Katanya, olahraga tersebut terlalu berbahaya bagi tubuhnya yang notabene mengidap Hemofilia.
Ia berjalan kembali ke hadapan Yilei. “Perhatian sekali kamu.” Ucapnya gemas sambil mengacak-acak rambut Yilei. Ia lalu berlari pergi sebelum gadis itu marah. Pasalnya, ia belum cuci tangan sehabis menanam pohon tadi.
“Yixing….” Dan benar saja. Gadis itu berteriak marah saat menyadari rambutnya penuh dengan tanah. Lelaki itu terbahak sambil terus melanjutkan larinya. “Jangan lupa datang ke turnamen minggu depan.” Teriak Yixing sebelum ia benar-benar hilang di balik pintu.
___
Hari pertandingan basket yang diikuti Yixing pun akhirnya datang. Meski hanya sebuah turnamen kecil antar sekolah, lelaki itu cukup mencurahkan seluruh tenaganya. Terbukti, sudah memasuki putaran kedua, lelaki itu terus saja bersikeras untuk ikut.
“Dasar keras kepala. Aku bilang kan hanya satu putaran.” Yilei yang tengah duduk di deretan penonton bergumam sebal melihat betapa semangatnya Yixing mengikuti pertandingan tersebut.
Meskipun begitu, Yilei tetap saja melihat pertandingan tersebut dengan acuh tak acuh. Lelaki itu sudah menerornya semalaman agar ia mau mendukungnya bermain. Yilei menghembuskan nafas lelah. Terlalu ramai di sini. Banyak sekali gadis-gadis yang sejak tadi meneriakkan nama Yixing dengan lantang.
“Tanpa menyuruhku datang, sudah ada puluhan gadis yang siap memutus pita suaranya demi menjadi pendukung, Tuan Zhang.” Yilei sempat melirik jengah pada gadis-gadis dengan mulut toa tersebut sebelum ia kembali melihat pertandingan Yixing dengan ogah-ogahan.
Pertandingan berjalan semakin panas. Poin kedua tim hanya terpaut sedikit. Yilei sedikit merasa bangga atas poin yang berhasil lelaki itu cetak. Semua berjalan lancar, hingga tiba-tiba tim lawan yang tengah berusaha merebut bola dari tangan Yixing tak sengaja menabraknya. Membuat Yixing jatuh terduduk.
Wasit membunyikan peluitnya. Tanda bahwa pertandingan harus dihentikan sementara. Yilei langsung berdiri dari duduknya. Menatap panik ke tengah lapangan. Yixing terus saja menunduk dan tak kunjung bangun. Beberapa dari anggota tim nya berjalan mendekat.
Yilei langsung saja teringat perihal pesan Yixing. Ia tak ingin teman-temannya tahu perihal penyakitnya. Mengingat itu, ia langsung berlari cepat, memisahkan diri dari kerumunan penonton. Terus berlari menuju lapangan.
Meski berada jauh dari Yixing, ia merasa lelaki itu meneriakkan namanya untuk cepat menolongnya. Dirinya terus saja menunduk dan mencoba menutupi wajahnya saat beberapa temannya berjalan mendekatinya. Mereka terus bertanya apakah Yixing baik-baik saja atau tidak.
Langkah kaki Yilei mulai menapak lapangan basket indoor tersebut. Tangan kanannya menggenggam cardigan hitam miliknya. Beberapa pemain yang ada di pinggir lapangan mulai meneriaki dirinya karena penonton dilarang pergi ke sana. Tapi ia mengabaikan teriakan tersebut.
Sesampainya di hadapan Yixing, ia langsung menutupi wajah lelaki tersebut dengan cardigan yang ia bawa. “Kau tak apa?” entah mengapa Yilei mendapati suaranya bergetar. “Aku rasa aku melukai diriku.” Yixing menjawab dengan suara lirih.
“Ayo pergi dari sini.” Pinta Yilei. Gadis itu langsung membantu Yixing untuk berdiri dan membawanya pergi dari sana.
Mereka berdua sampai di ruang kesehatan. Yilei membuka cardigan yang tadi menutupi wajah Yixing. Ia tercengang melihat betapa banyaknya darah yang keluar dari mulut lelaki itu. Baju basketnya yang berwarna putih pun sampai berubah warna.
“Aku akan mengambil kotaknya. Kamu tunggu di sini. Muntahkan semua darah yang ada di mulutmu. Jangan sampai tertelan. Aku tidak tahu seberapa besar lukanya tapi… tapi kita harus segera menghentikan pendarahan.” Tanpa sadar tangan Yilei bergetar. Yixing masih berusaha memuntahkan darah yang terus saja mengalir.
Yilei berlari menuju kantin. Ia membuka salah satu lemari pendingin milik Ibu kantin. Diambilnya sebuah kotak kesehatan yang tersembunyi di balik botol-botol minuman di rak paling bawah. Karena panik, semua botol tersebut jatuh berserakan. Bahkan ada yang menggelinding keluar.
Ia merapikan botol tersebut kembali sebelum Ibu pemilik kantin memarahinya. Ia lalu berlari kembali menuju ruang kesehatan sambil menenteng kotak tersebut. Yixing masih saja berusaha memuntahkan darahnya saat Yilei sampai di sana.
Gadis itu langsung menyodorkan air untuk digunakannya berkumur. Setelah itu, ia menyuruh Yixing untuk membuka mulutnya. Ada sebuah luka sobek besar di bagian pipi dalamnya. Ia menduga akibat terjepit kedua gusinya.
Yilei membuka kotak tersebut dan mengambil sebuah alat penyemprot. Ia memerintah Yixing untuk membuka mulutnya lebih besar agar alat penyemprot tersebut dapat menjangkau lukanya. Gadis itu langsung menyemprotnya di ata lukanya. Darah yang mengalir perlahan berhenti.
Tak berhenti sampai di situ. Yilei kembali meraih sebuah cairan kecil dan sebuah suntik kecil. Ia memasukkan cairan tersebut ke dalam suntik kecil tersebut sebelum kembali menyuntikkannya di area luka Yixing. Luka yang ada perlahan kering.
Yilei langsung bernafas lega saat akhirnya serangkaian hal yang harus dilakukannya saat Yixing terluka sudah ia laksanakan. Ia mengusap keringat dingin di waajahnya. Sudah lama sekali ia tidak melakukan semua hal tersebut. Ia gugup setengah mati tadi.
“Yilei…” Yilei langsung menatap Yixing mendengar lelaki itu memanggilnya lemah. “Kau mau ke rumah sakit?” Yilei bertanya sekenanya. Melihat muka Yixing yang pucat, pastilah lelaki tersebut kehilangan cukup banyak darah.
Lelaki itu menggeleng lemah. Tangannya bergerak perlahan menggenggam tangan Yilei. “Sebenarnya aku ingin melakukan ini setelah pertandingan selesai. Tapi… aku menghancurkan rencanaku sendiri.”
Yilei menaikkan satu alisnya. Tak mengerti dengan maskud Yixing. “Apa?” tanyanya bingung. “Kau pusing?” Yilei kembali bertanya mengenai keadaan Yixing. Dan lagi-lagi lelaki itu menggeleng lemah.
“Huang Yilei… Wo ai ni.”
Pupil mata Yilei melebar seketika. Tak percaya dengan 3 kata 1 kalimat yang baru saja Yixing lontarkan. Benarkah? Benarkah Yixing mengatakan kata itu barusan?
“Would you be mine?” Dan kalimat terakhir yang Yixing ucapkan membenarkan semua yang ada di otaknya sekarang.
Momen yang ditunggunya sejak lama akhirnya terjadi juga. Meski hanya di ruang kesehatan. Meski hanya bersaksikan kasur-kasur kosong. Meski tak ada kata puitis yang terlontar dari mulutnya. Ah tidak, wo ai ni adalah kata yang paling manis dari semua kata yang seharusnya ia dengar.
***
Seoul – 2015
“Woah…” Chanyeol bertepuk tangan, tercengang dengan arasemen baru dari lagu yang Lay buat. Ia tak tahu jika saran asal-asalannya benar-benar membuat Lay menciptakan sebuah lagu yang menyentuh. “Daebak !”serunya tak percaya.
“Sepertinya kau benar-benar menyukai akasia, hyung.” Ucap Chanyeol takjub. Lay mengulum senyum tipis mendengarnya.
“Chanyeol-ah…”
“Ne…”
Lay membasahi tenggorokannya sebelum membuka suara. Chanyeol menunggu dengan sabar mengenai apa yang Lay ingin katakan padanya. “Kau mau mendengar sebuah cerita?” Chanyeol yang penasaran pun hanya mengangguk singkat.
“Cerita apa?” Chanyeol bertanya kembali saat Lay hanya diam dan tak kunjung memulai ceritanya.
“Cerita tentang bunga akasia. Cerita tentang seorang gadis yang sangat menyukai bunga akasia.” Chanyeol mengerutkan keningnya. Ia lalu tersenyum jahil ke arahnya. “Apa hyung punya pacar?” godanya.
“Cerita yang sejauh ini hanya diketahui oleh Xiumin, Luhan dan Suho saja. Cerita yang jika kau mendengarnya mungkin akan berfikir aku sama saja dengan ketiga orang yang pergi meninggalkan grup.” Senyum menggoda Chanyeol luntur kembali melihat Lay mengabaikan candaannya.
“Geurae… Aku punya seorang yeoja chingu. Keunde… Aku tak lagi dapat melihatnya.”
***
Yixing menoleh ke belakang, ia langsung panik saat tak didapatinya sang kekasih. Ia memukul kepalanya pelan, karena terlalu semangat bercerita, ia lupa untuk menggenggam tangan gadisnya agar tidak menghilang.
Ia berlarian. Mencari kesana-kemari dengan wajah kusut bercampur khawatir. Dirinya langsung menghela nafas lega saat melihat sosok yang tengah dicarinya tengah berdiri terpaku di depan sebuah toko kaset.
"Yilei.. Kau membuatku khawatir." ucapnya dengan nafas terengah. "Aku kira kau menghilang karena ak--" Yixing menghentikan kalimatnya saat dirasa kekasihnya itu tak menghiraukan dirinya sama sekali.
"Yilei." Ia memanggil nama sang kekasih untuk menarik perhatiannya. Namun hasilnya nihil. Matanya -dan mungkin juga hati dan pikiran- terpaku pada layar besar dalam toko yang tengah menampilkan sebuah video dari seorang penyanyi yang Yixing tak ketahui namanya.
"Yilei." Ia mengulang panggilannya. Kali ini lebih keras disertai sentuhan di bahunya. Yilei langsung menoleh dan Yixing sempat menangkap pupil mata gadis itu yang melebar kaget.
"Gege... Kau sudah dapat sepatu yang kau mau?" Yixing langsung mengernyit bingung. Sepatu apa yang dimaksud gadis itu. Apa sepatu yang kini digenggam Yixing di tangan kirinya? "Sepatu apa? Maksudmu ini?" Ia mengangkat bawaan di tanganya. "Kita membelinya lima belas menit yang lalu, Yilei. Kau lupa?"
Yilei langsung menepuk jidatnya. "Oh iya." serunya malu. Yixing menghela nafas panjang dan geleng-geleng sendiri melihat kelakuan aneh gadisnya. "Apa yang barusan kau lihat hingga tak fokus seperti itu?"
Gadis itu terdiam sambil memainkan jarinya, "Aku hanya terpana melihat boyband baru dari Om Sooman." gumamnya lirih.
"Apa?" Yixing mengernyirkan dahinya bingung. "Lihat itu." Yilei menarik tangannya tiba-tiba dan memperlihatkanya sebuah video yang tadi mampu membuat Yixing terabaikan. "Namanya Super Junior. Mereka boyband asuhan Om Sooman. Mereka sangat keren. Bisa menyanyi sambil menari secara bersamaan." Gadis itu bicara panjang lebar.
"Woaaa... Itu Siwon oppa." Ia berteriak histeris. Tanpa sadar meremas tangan Yixing yang digenggamnya. "Tampannya..."
"Oppa? Tampan?" ucap Yixing geram sambil melemparkan tatapan kesal pada layar yang tengah menampilkan sosok bernama Siwon tersebut. "Apa bagusnya mereka? Aku bahkan bisa melakukan itu lebih baik."
Yilei menoleh, menatapnya datar. "Really" tanyanya sambil menahan tawa. Yixing langsung mengangguk mantap. "Katakan pada orang bernama Sooman jika Zhang Yixing akan masuk agensinya dan membuat boyband yang lebih keren dari milik Siwon itu." ucapnya dengan tempo cepat. Ia melepas cekalan tangan Yilei dan berjalan pergi sambil menggerutu tak jelas. Yilei tersenyum melihatnya.
"Bukan hanya boyband. Aku bahkan akan meluncurkan laguku sendiri khusus untuk Yilei." Yilei melotot kaget saat melihat Yixing sudah berdiri di depannya kembali. Yilei mengangguk menyangupi apa yang dikatakan lelaki itu.
Yixing yang masih kesal gara-gara boyband Super Junior tersebut menggenggam tangan kekasihnya perlahan. "Kau bilang mau makan mie. Ayo pergi sebelum hari gelap."
***
Chanyeol memandang Lay tak percaya. "I...itu... K..k..kau sedang... mengarang cerita, hyung?" Lelaki itu berucap dengan terbata. Tak kuasa dengan semua cerita yang baru saja Lay katakan.
Lay hanya tersenyum tipis. Chanyeol menggeleng tak percaya. "Aku... Aku bukan orang yang seperti dalam pikiranmu. Aku bukan orang baik seperti yang-" ucapan Lay terhenti saat Xiumin tiba-tiba menariknya paksa. Membawanya menjauh dari Chanyeol yang masih syok dengan semua itu.
"Kau gila. Apa yang kau katakan pada Chanyeol hah?" teriak Xiumin marah.
"Aku hanya menceritakan diriku yang sebenarnya. Bahwa masih ada sampah tersisa di dalam grupnya." Lay berucap datar. Semua yang melihatnya kini tak akan menyangka jika dia benar-benar Lay yang kalian tahu. Tatapan yang ia luncurkan, berbeda.
"Orang yang berpura-pura polos ini, sebenarnya sudah membunuh gadisnya sendiri. Yixing membunuh-" Sebelum Lay sempat menyelesaikan kalimatnya, Xiumin melayangkan tamparan keras padanya.
"Ucapan gila apa yang sedang kau katakan?"
***
Seoul - 2012. Hari Debut EXO.
Lay terus memandangi ponselnya yang tak kunjung berdering. Pasalnya, beberapa menit lagi acara debutnya akan dimulai, tetapi Yilei sang kekasih tak kunjung memberi kabar. Apakah gadis itu sudah duduk manis di kursi VIP yang ia pesan untuknya. Atau ia masih dalam perjalanan.
Dering yang ditunggu pun tiba. Tanpa pikir panjang ia langsung mengangkatnya dengan senyum sumringah yang tak dapat dilihat Yilei. Kabar yang sangat ia tunggu. Hanya sebuah kalimat yang berkata bahwa gadis itu siap melihatnya debut sebagai anggota boygroup seperti janjinya saat itu.
Hingga semua hari baik yang ia canangkan, kini hanya sebuah rencana belaka. Badai yang bahkan tak pernah sedikitpun melintas di benaknya, datang memporak-porandakan semua. Kabar yang bahkan tak seorang pun ingin mendengarnya. Sebuah surat kematian.
Lay menjatuhkan ponselnya begitu saja. Ia menatap sekeliling dengan tangan gemetaran yang tak bisa ia bendung. Bagai orang linglung, ia berjalan tak tentu arah. Menabrak barang-barang tak bersalah di sekitarnya.
"Yi...yilei. Yilei." bibirnya terus merapal tak jelas bagai kaset rusak. Hingga Luhan, salah satu temannya menyadari kejanggalan dalam diri Lay.
"Yixing, ada apa?" lelaki berwajah imut itu berjalan mendekat. Memegang pundak Lay yang tak merespon pertanyaannya.
"Yilei. Yilei." Luhan yang notabene mengenali nama gadis tersebut langsung mengernyit curiga. "Ada apa?"
Lay menatap Luhan tepat di manik matanya. "Yilei.. Dia... Dia kecelakaan. Aku harus ke sana. Aku harus menolong Yilei." Lay kembali merapal frustasi. Ia kembali berjalan bagai orang linglung.
Luhan menarik lengan Lay agar kembali berdiri di hadapannya. Tapii acara debur kita dimulai sebentar lagi."
Lay melotot marah. "Kau kira aku peduli? Yilei sedang mempertaruhkan nyawanya. Karena hari debut bodoh ini dia membahayakan nyawanya." Lay menyibak tangan Luhan dari lengannya. "Debut sebagai Lay bahkan tidak lebih penting dibanding Yilei." Lay berbisij tajam sebelum ia beranjak pergi.
Langkahnya membeku. Beberapa meter di depannya, Kim Junmyeon a.k.a Suho tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Kecewa, marah, dan sedih, semua bercampur menjadi satu.
"EXO... Nama itu juga tak berarti apa-apa bagimu?" Suho berucap lirih. Suaranya serak menahan tangis. "Ottokhae? Belum ada beberapa jam aku menjadi leader, sudah ada satu anggota yang mengajukan diri untuk pergi." Ia menghela nafas panjang. " Minseok-ah, aku leader yang hebat ya?"
"Uh?" Xiumin yang berdiri di belakan Suho semenjak tadi terkaget saat lelaki itu tiba-tiba membawanya dalam pembicaraan tak menyenangkan itu. "Suho-ya..." Seru Xiumin melihat lelaki itu pergi tanpa pemberitahuan.
" Yixing." panggil Luhan sepeninggal Suho dan Xiumin dari ruangan itu. "Bukankah debut sebagai Lay adalah keinginan Yilei? Jika kau lari ke rumah sakit sekarang, sama saja dengan kau tak mengabulkan keinginannya kan?"
"Yilei akan baik-baik saja. Serahkan dia pada dokter ahli dan lakukan penampilan spesialmu untuk Yilei." Lay terdiam mendengar kata-kata Luhan. "Bukan hanya Yilei yang akan senang jika kau ada di atas panggung hari ini. Ada ribuan fans yang merasa tak sia-sia telah menunggumu berjam-jam. Dan juga... Kau tak akan menghancurkan penantian Suho selama 7 tahun kan?"
Lay mendongak. Menatap Luhan dengan berbagai ekspresi. 'Pilihan mana yang harus ku pilih?'
***
Seoul - 2015
"Aku memang benar-benar membunuhnya. Jika saja hari itu aku memilih untuk pergi ke rumah sakit dan bukannya menari di atas panggung, mungkin dia akan-"
"-selamat?" potong Xiumin cepat. "Memangnya kau siapa? Dokter bedah handal?" ia berucap sinis. "Ada apa denganmu? Kenapa kau mengungkit hal ini lagi? Kau mendapat teror dari sasaeng lagi? Ada orang yang mengingingkanmu untuk keluar lagi? Geurae... Keluar sana. EXO tidak butuh orang yang hidup untuk orang mati."
Lay mengepalkan tangannya. Ia tersakiti dengan kata-kata menyakitkan yang Xiumin lontarkan. "Wae? Kau mau memukulmu?" Xiumin menyodorkan pipinya ke hadapan Lay. "Pukul cepat." tantangnya. Lay semakin mengeratkan kepalannya, namun lelaki itu tak kunjung melayangkan tinjunya.
Xiumin menarim wajahnya kembali dan menatap Lay tajam. "Berhenti bersifat kekanak-kanakan dan berfikiran bodoh seperti ini. Kau pikir Yilei akan menyukainya?"
"Berapa banyak hal yang kau korbankan untuk berdiri di sini sebagai Lay? Berapa banyak hal yang sudah kau korbankan untuk menjadi seorang EXO Lay? Apa kematian Yilei kurang bagimu?"
Lay terisak. Tangisnya pecah seketika itu juga. "Kau tak membunuhnya Lay. Kau tak pernah membunuh siapapun. Yang kau lakukan malah memberinya kado terindah sebelum ia menutup matanya."
Tangisan Lay semakin keras. Isak tangis membuat dadanya naik turun. Wajahnya basah penuh air mata.
Xiumin menarik Lay ke dalam pelukannya. Memberi sedikit kehangatan pada lelaki rapuh itu. "Kau berhasil melukiskan senyum terindah di wajah Yilei." Ia mengelus pundak Lay perlahan. " Kau melakukan semuanya dengan baik, Lay."
"Kau melakukannya dengan baik."
***
Hyung : kakak laki-lakik
Oppa : kakak laki-laki (bagi perempuan)
Gege : kakak laki-laki (bahasa cina)
Aniyo : tidak
Geurae : ya. Baiklah
Yeoja chingu : pacar
Daebak : keren
Keunde : tapi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar