Minggu, 03 Januari 2016

Filosofi Teh (Cerpen)

Baekhyun Story

Dua hal tak terduga, yang datang bersama-sama. Cinta dan Prahara. –Byun Baekhyun-




***

Entah senyumnya, entah tatapannya, entah tawanya. Semua terasa asing sekarang. Tak ada lagi debaran yang tercipta. Atau balasan senyum manis yang sama saat melihat tawa indahnya. Semua seakan terasa menghilang. Atau mungkin memang tak pernah ada.

Lagi, lagi, dan lagi. Pikirannya melayang entah kemana. Fokusnya bukan lagi pada bibir yang tengah berbicara. Melainkan gadis lain di luar sana. Panggil dirinya brengsek. Karena memang begitu adanya.

Oppa*. Oppaaaa?” Sebuah lambaian tangan di depan wajahnya seakan menarik Baekhyun dari genangan lamunan yang ia buat. Dirinya tergeragap. Dan tak tahu menahu harus menanggapi bagaimana.

Untungnya, gadis itu mengerti. Terlalu mengerti malah untuk ukuran seorang kekasih. Karena ia tak marah atau pun kesal atas pengabaian yang Baekhyun lakukan. 

Oppa lelah ya? Sudah mulai mengantuk.”

Dan anehnya Baekhyun tak suka itu. Kebaikannya yang setingkat malaikat membuat hatinya tak juga berdebar. Bagai candu yang mulai memudar.

“Kalau begitu aku pulang saja.” Gadis di depannya itu mengelus tangan Baekhyun pelan. Sebelum akhirnya beranjak hendak pergi.

Dengan cepat Baekhyun menahan tangannya. Ia ikut berdiri dari duduknya. “Aku antar pulang ya?”

Dia tersenyum manis. Senyum yang sama namun terasa berbeda. “Tak usah. Rumahku kan ada di sebelah dorm* oppa. Aku bisa pulang sendiri.”

Benar juga. Setelah beberapa bulan lalu aku mengakhiri hubunganku dengan gadis lain, gadis di depannya ini memutuskan untuk pindah ke Korea. Menentukan tempat tinggalnya tepat di sebelah dorm milik EXO. 

Semua orang yang mendengarnya akan menyebut gadis itu sasaeng* gila. Tapi aku tidak, karena aku alasan mengapa dia berbuat seperti itu. Ucapan rindu yang kuucapkan lewat jaringan telepon setiap malam saat ia masih tinggal di Beijing, menjadi satu diantara puluhan alasan lainnya.

Aku menarik nafas dalam sebelum mengucapkan kata terakhir untuknya malam ini. “Geurae*… Hati-hati di jalan. Good night, Meimei.” Ucapku pelan sembari mendaratkan kecupan singkat di dahinya.

Ia kembali tersenyum. Sebelum pergi, ia membawa diriku untuk dipeluknya singkat. Mataku mengantarnya hingga ia hilang di balik pintu depan. Diriku berbalik setelahnya. Sempat mendapati kawan satu grupku, Chen, memandangku dengan tatapan anehnya seperti biasa. Aku tahu arti tatapan itu. Terlalu tahu malah.

***

Baekhyun menjatuhkan dirinya ke atas ranjang besar miliknya. Ranjang satunya kosong, Chanyeol masih saja sibuk syuting di negeri orang. 

Sepi. Tak ada yang mengajaknya bicara atau mengganggunya. Tapi dirinya malah tak kunjung terlelap. Jarum jam bahkan hampir menunjuk angka 12 di keduanya. Ah… Ini bukan seperti dirinya yang sangat menjaga pola tidur dan makan. Banyak pikiran yang berjubel di otaknya, membuat matanya enggan menutup.

Tangannya dengan cepat meraih ponselnya. Mungkin mendengar suara gadis itu bisa membuatnya terlelap. Mungkin saja. Jika gadis itu belum juga terlelap seperti dirinya.

Awalnya hanya ingin melakukan panggilan biasa. Namun keserakahannya membuat Baekhyun melakukan panggilan video call. Dirinya memandang siluet wajahnya pada layar sambil menunggu panggilannya diangkat. 

Layar tersebut tiba-tiba berubah gambar menjadi wajahnya. Wajah yang juga dirindukannya.

“Em, Baekhyun-ah. Waeyo*?” Matanya sayup. Sepertinya Baekhyun mengganggu tidurnya.

“Ah, sepertinya aku mengganggu tidurmu.” Katanya tak enak. Yang langsung dijawab gelengan cepat.

“Aku masih di lokasi syuting kok.” Layarnya bergerak ke sana kemari. Gadis itu tengah menunjukkan lokasi syuting.

“Dari tadi siang masih belum selesai?” Gadis itu menggeleng lemah.

“Director-nya ingin menyelesaikan scene ini sekarang juga. Karena deadline debut mereka semakin dekat.” Gadis tersebut menjelaskan. Dirinya tengah membintangi video klip sebuah boyband baru.

“Mau kunyanyikan sesuatu untuk menambah energimu?”

Gadis itu mengangguk sembari tersenyum. Senyum yang hampir serupa dengan senyum gadis yang tinggal di sebelah dorm nya. Serupa tapi tak sama. Karena kapasitas debaran yang dihasilkan berbeda.

Baekhyun menyanyikan reff sebuah lagu yang tengah digandrungi gadis itu. Lagu dari sebuah band dari Jepang yang tengah naik daun. Lagu nyanyiannya yang belum sepenuhnya selesai, terpotong oleh panggilan sang director yang memanggil gadis itu untuk melanjutkan syuting.

Suasana kembali sepi dan sunyi. Baekhyun kembali tenggelam dalam lamunan tak berartinya. Hingga suara sebuah benda yang menabrak jendelanya mengalihkan perhatian Baekhyun. Lelaki itu berjalan menghampiri sumber suara. Dan menemukan sebuah pesawat terbang dari kertas origami warna kuning.

Ia membongkar origami tersebut. Dan menemukan sebuah coretan di dalamnya.

Kuning berarti pengharapan. Seperti aku yang selalu mengharapkan kebahagiaanmu. Jaljayo, Baekhyun oppa :) –Meimei-

Setelah membacanya habis, Baekhyun buru-buru menengok keluar. Ia langsung mendapati Meimei yang tengah berdiri di halaman depan dorm-nya. Sambil tersenyum dalam. Melambaikan tangannya pada Baekhyun. Hendak kembali pulang ke rumahnya.

Dengan cepat Baekhyun berlari. Keluar dari kamarnya. Menuruni tangga yang ada. Dan membuka pintu depan dorm miliknya. Adegan yang persis sama saat Baekhyun tahu gadis itu jatuh dari pohon beberapa waktu yang lalu. Ia berlari tanpa memikirkan apapun. Hanya dia.

Ia meraih tangan gadis itu. Membalikkan badannya agar menghadap dirinya. Matanya menatap Baekhyun kaget. Tak percaya bahwa lelaki itu sekarang ada di depannya. Baekhyun mengulum senyum tipisnya. Ekspresi kagetnya dalah salah satu favorit Baekhyun. Seperti senyum milik gadis yang ia hubungi lewat video call tadi yang juga menjadi favoritnya.

Oppa, wa—

“—mau lari-lari denganku?” potong Baekhyun cepat.

***

Kedua insane manusia itu membaringkan tubuh mereka di atas rerumputan yang basah. Rasa dingin langsung menerpa punggung keduanya. Membawa sedikit kesegaran setelah gerah akibat berlari. Meski tengah malam, tetap saja keringat membuat keduanya kepanasan.

Keduanya menoleh. Matanya berpandangan. Sejenak mereka diam, sebelum akhirnya tertawa bersama tanpa tahu penyebabnya.

“Menyenangkan ya?”

Gadis itu mengangguk. “Lebih enak lagi kalau di pagi hari. Lebih segar dan menyehatkan.” Timpalnya singkat.

Sebenarnya tak ada maksud tersembunyi dari kalimat yang terucap. Hanya saja, entah mengapa kata-kata itu serasa menamparnya.

Mianhae*.” Gumamnya pelan sembari menatap langit. Langit yang gelap tanpa bintang. “Seharusnya aku bisa membawamu jalan-jalan di siang hari. Mengajakmu menonton film bersama. Menggandeng tanganmu tanpa takut perhatian akan tertuju pada kita.”

Gadis di sebelahnya ikut memandang langit yang gelap. “Kenapa oppa berfikir seperti itu.”

Baekhyun terkikik geli mendengar pertanyaan gadis tersebut yang terlampau polos. “Karena kau kekasihku.”

“Bagaimana bisa aku menjadi kekasih oppa. Oppa bahkan tak pernah menyatakan cinta padaku satu kalipun. Bukankah itu yang membuat seseorang menjadi pasangan kekasih.”

Sebuah pernyataan yang seakan menampar Baekhyun begitu keras. Dirinya menoleh, menatap gadis di sebelahnya nanar. Jika ditilik kembali, ia tak pernah sekalipun menyatakan cinta. Kecuali pada gadis yang satunya. 

Ia hanya pernah berkata bahwa hubungannya dengan gadis lain itu sudah berakhir. Sudah, begitu saja. Tak ada sebuah ritual acara menyatakan cinta dari yang romantis sampai yang sederhana sekalipun.

Tanpa diduga, gadis itu beranjak dari tidurnya. Tanpa sekalipun menoleh balik pada Baekhyun. “Sudah malam. Setidaknya aku harus pulang.”

Kali ini, tak ada lagi cekalan di tangannya yang dilakukan Baekhyun untuk menahannya. Lelaki itu terlalu sibuk tenggelam dalam pikirannya sendiri. Hingga ia tersadar sedetik kemudian. Saat gadis itu sudah melangkah jauh.

“Meimei… Tunggu sebentar. Tunggu sebentar saja.” Teriaknya keras. Dengan keyakinan kuat dalam hatinya. Ya, tunggu sebentar saja. Sampai Baekhyun siap untuk menyatakan hal tersebut. Sebentar lagi saja.

***

Kedua cangkir warna campuran abu-abu dan hijau itu masih mengepulkan asap. Menandakan bahwa cairan di dalamnya masih panas. Baekhyun duduk termenung menatap kosong ke arah cangkir tersebut. Acara konsultasi dengan salah satu sunbae nya perihal cara menyatakan cinta yang romantis berganti menjadi pembicaraan teh.

Heecul –salah satu sunbae* Baekhyun- mendorong salah satu cangkir yang baru saja diraciknya ke depan Baekhyun. “Cobalah.” Ucapnya singkat.

“Itu oleh-olehku sehabis tour ke Jepang.” Tambahnya.

Perlahan dirinya mengambil cangkir tersebut. Mengendusnya sejenak sebelum meneguk isinya. “Manis kan?” tanya Heecul ketika Baekhyun meletakkan cangkirnya kembali. Lelaki itu hanya mengangguk singkat.

“Meski tanpa gula, teh tersebut sudah manis. Karena daunnya dipetik saat belum terkena sinar matahari setitik pun. Jadi daun dari teh tersebut tak pernah merasakan yang namanya timpaan matahari.” 

Baekhyun hanya bisa manggut-manggut. Tak terlalu mengerti dan juga tak terlalu penasaran. Karena tujuan awalnya datang ke sini bukan untuk mendengar celotehan mengenai teh.

“Meski begitu, ia tak memiliki aroma. Saat kau endus, kau tak mendapati apa-apa. Maka dari itu, teh tersebut dinamai Teh Putih.”

“Kalau yang ku minum ini—“ sunbae-nya mengacungkan cangkir satunya yang kini ada di genggamannya. “—teh hitam. Pekat dan pahit. Karena dipetik dari daun teh terbaik yang paling pucuk. Yang setidaknya sudah pernah terkena sinar matahari.”

Lagi-lagi Baekhyun tak mengerti apa yang dikatakan lelaki di depannya. Mungkin ia ingin pamer mengenai filosofi teh yang dia dapatkan selama berada di Jepang. Masalahnya, Baekhyun tidak tertarik. 

Ia hanya ingin bertanya padanya mengenai cara menyatakan cinta yang romantis namun tidak kekanakan pada sunbae-nya yang dirasa lebih mengerti tersebut. Karena dulu, berkat nasehat lelaki itu, Baekhyun bisa mendapatkan seorang Kim Taeyeon. Dan sekarang ia ingin meminta nasehat lain untuk pernyataan cintanya pada Meimei. Sasaeng fan nya. Si Polar Light

“Namun—“ Heecul menghirup dalam aroma teh dalam cangkir di genggamannya. “—teh ini memiliki aroma yang lebih memikat. Juga menenangkan. Bagai memiliki candu tersendiri yang ingin kau hirup setiap saat. Seperti kafein pada kopi.”

Diletakkannya kembali cangkir tersebut. Lalu, lelaki tersebut beralih menatap Baekhyun dalam. “Jika ku beri pilihan, mana yang akan kau pilih? Teh putih yang manis namun tak beraroma. Atau teh hitam yang sedikit pahit namun aromanya menenangkanmu?”

Baekhyun terdiam. Mana yang ingin dipilihnya? Ah… tentu saja yang dia genggam. “Teh putih?” jawabnya sedikit ragu.

Wae*?”

“Karena rasanya manis.”

“Meski tanpa aroma?”

Pertanyaan terakhir membuat Baekhyun kembali terdiam. Lalu, apa masalahnya jika tak beraroma. Toh yang dirasa kan rasanya.

“Bukannya teh hitam jika ku beri gula juga akan berasa manis? Kau bahkan bisa mengukur kadar kemanisannya sesuai seleramu.”

Lagi-lagi dirinya terdiam. Benar juga. Teh hitam juga bisa berubah manis. Uh… Lalu dirinya ingin mengubah jawabannya? Arghhh… ini membingungkan.

“Kenapa kau bingung?” Seakan bisa membaca pikirannya, Heecul kembali berkata. “Toh itu semua hanya sekecap rasa yang akan hilang saat kau habis meminumnya.”

Lagi, lagi dan lagi, Baekhyun membenarkan ucapan sunbae-nya itu. Perlahan, ia tenggelam dalam pembicaraan teh tersebut. Dan mulai lupa masalah rencana menyatakan cinta.

“Setidaknya kau tahu. Untuk menjadi sebuah teh, mereka semua telah mengalami proses yang panjang. Lalu menyeduhkan seluruh sarinya hanya untukmu.”

“Dan kau tahu, teh yang sudah kehilangan sari-sarinya akan berakhir dimana?” Baekhyun menaikkan salah satu alisnya. Menunggu jawaban Heecul. “Tong sampah.”

“Maka dari itu, jangan pernah sia-siakan seduhan yang telah mereka berikan.”

Meski awalnya Baekhyun mengira ini hanya pembicaraan teh yang membosankan, makin ke sini ia makin mengerti. Kedua teh yang Heecul bicarakan, merujuk pada dua orang gadis. Dua orang gadis yang kini ada di kehidupan Baekhyun.

“Meski begitu, kau tak bisa meneguk keduanya secara bersamaan.”

Ucapan Heecul membawa Baekhyun bangun dari lamunannya. Dahinya mengernyit. Maksudnya tak bisa meneguk bersamaan? Bukankah tadi dia bilang untuk jangan menyia-nyiakan seduhannya?

“Maksudnya?”

“Sebuah teh hanya akan menjadi kumpulan daun kering jika kau belum menyeduhnya. Tak mungkin kan kau menyeduh keduanya. Perutmu itu tak mungkin sanggup menenggak keduanya. Jangan sia-siakan salah satunya hanya karena kau ingin mencicipi keduanya lantas menyeduhnya semua.”

Baekhyun mengangguk pelan. Mengerti makna yang terkandung di dalamnya. Maksud Heecul, pilih salah satu, bukan keduanya. Karena hatinya terlalu kecil untuk menampung keduanya.

“Ah… sepertinya mau turun salju.” Heecul meregangkan kedua tangannya, sembari menatap ke jendela gedung SM yang besar. “Ku kira sudah memasuki musim dingin.”

Lelaki itu beranjak. Meraih ponselnya lalu berjalan melewati Baekhyun setelah sebelumnya menepuk pundak hoobae-nya pelan.

Hyung.” Panggilan Baekhyun menginterupsi langkah kakinya. “Lalu… yang mana yang harus ku pilih? Teh hitam atau teh putih?”

Dirinya menoleh sejenak. Melempar senyum misterius sebelum menjawab. “Yang menjadi candu bagimu. Yang aromanya menenangkanmu.  Yang rasanya bisa kau bumbui sesukamu.”

Teh hitam. Cetus Baekhyun cepat dalam hati setelah mendengar definisi tersebut. Heecul kembali melanjutkan langkahnya.

Hyung*.” Panggilan Baekhyun kembali menghentikan langkahnya. Kali ini dia tidak menoleh karena Baekhyun sendiri yang berlari menghampiri dan berdiri di depannya. “Siapakah dia si teh hitam?” tanyanya dengan nafas sedikit terengah.

Heecul memajukan wajahnya. Memposisikan bibirnya mendekat ke telinga Baekhyun. “Kenapa kau tanya aku? Bukankah kau sendiri yang merasakannya? Siapa yang paling membuatmu berdebar dan pantas menyandang gelar sebagai teh hitam?” bisik lelaki itu.

***

Malam semakin gelap. Waktu menunjukkan pukul 11 malam. Suasana menjadi sepi dalam gedung tersebut. Namun, seorang gadis tanpa takut masuk ke sana. Menghampiri seseorang yang mungkin menunggunya.

Gelap. Itu kesan pertama yang ia dapat. Tak ada cukup penerangan dalam sana. Tapi, rasa takut belum juga menghampirinya.

Tiba-tiba, terdengar sebuah alunan musik di pojok ruangan. Sudut itu yang semula gelap, kini sedikit terang akibat pencahayaan dari lilin di atas piano. Lelaki yang dicarinya tengah berada di sana. Duduk manis di depan sebuah grand piano tengah memainkan sebuah lagu.

Lagu lucky yang biasanya lelaki itu nyanyikan dengan beat cepat, diaransemen ulang menjadi sebuah lagu mellow yang mendayu. Menyentuh kalbu dengan beat yang lebih slow dan nada yang lebih rendah. Terdengar begitu romantis.

Tangannya menari dengan lincah. Seakan menyatu dengan tuts tuts piano tersebut. Ekspresinya menghayati setiap nada yang tercipta. Mencipatakan sebuah mahakarya sempurna di hadapannya.

Musik selesai. Pandangannya kini teralih pada Meimei, gadis yang sedari tadi seakan terhipnotis pertunjukkannya. Perlahan namun pasti, Baekhyun melangkah mendekat.

Bagai sudah terlatih, Baekhyun meraih kedua tangan Meimei. Membawanya ke depan dada miliknya. yang tak terlalu bidang namun juga tidak gembul. “Meimei—“ ucapnya lirih. Dan terdengar begitu syahdu.

“Maaf membuatmu begitu lama untuk menanti malam ini datang. Maaf telah membuatmu menunggu lama untuk kalimat ini terucap dari bibirku. Untuk itu, aku tak ingin kau menunggu lagi.”

Meimei menunduk dalam. Menetralkan hatinya yang seakan siap meledak. “Meimei… mau kah kau, menjadi pacarku?”

Diam. Tak ada jawaban. Hanya remasan pelan di tangan Baekhyun saja yang didapatinya. Mungkin gadis ini terlalu gugup. Baekhyun memaklumi.

Namun, tanpa dia duga. Gadis tersebut membawa Baekhyun ke dalam pelukannya. Memeluknya erat bagai tak ingin melepasnya lagi. Awalnya Baekhyun terkaget dan hanya diam saja. Tak ada debaran yang ia bayangkan sebelumnya berdetak dalam hatinya.

Bukankah gadis ini si teh hitam? Mengapa tak ada candu yang Baekhyun rasakan. Seakan semua ini sudah terlalu biasa. Sudah terlalu manis sehingga Baekhyun tak perlu menambah gula di dalamnya. Dirinya tak salah menentukan gelar kan?

Oppa—“ ucap gadis itu serak. Seakan suaranya bercampur tangis. Baekhyun juga bisa merasakan bajunya yang perlahan basah. “Gamsahamnida. Mianhamnida.*

Ia terlalu larut dengan pertengkaran hatinya. Mengenai siapa teh putih dan siapa teh hitam. Hingga ia tersadar sesuatu. Tangis diam Meimei berubah isakan. Membuat Baekhyun khawatir. Dengan cepat lelaki itu melepas pelukannya. Dirinya tak melakukan kesalahan kan?

“Sepertinya semua ini harus dicukupkan sampai di sini.” Gadis itu berusaha keras berbicara normal dalam isaknya. “Cukup bagiku untuk bermain-main dan terlalu dalam bagiku membohongi diri sendiri. Dan cukup juga bagimu menyalah-artikan rasa terima kasih menjadi sebuah rasa cinta.”

“Karena pada hakikatnya. Seorang peterpan berakhir dengan wendy pujaannya. Bukan thinkerbell.”

Meimei mengusap air matanya kasar. Kembali melanjutkan perkataannya. “Jangan mencoba untuk mengubah akhir cerita yang sudah tertuliskan. Jangan membuat diriku seperti wanita jahat yang merebut dirimu untuk ku miliki.”

Dengan keberanian yang Meimei kumpulkan sejak tadi, ia mendongak. Menatap manik matanya yang serasa familiar namun nyatanya asing itu. “Just go get her. Aku akan memainkan peranku sebagai thinkerbell dengan memandangimu bahagia bersama Wendy dari sini.”

***

Taeyeon terbaring lemas di ranjangnya. Ranjang yang cukup besar. Bak ranjang seorang putri. Musik klasik yang mendayu-dayu seakan memenuhi ruangan. Tersalurkan lewat stereo kelewat besar.

Waktu mulai berganti. Dari jam 12 malam menuju jam 1 pagi. Itu berarti hari pun mulai berganti. Namun, mata itu tak kunjung terlelap. Ucapan dari seseorang membuatnya enggan terlelap. Karena ia takut bertemu mimpi buruk. 

Aku akan menyatakan cinta padanya. Membuat jelas hubungan yang sebenarnya. Yang itu berarti kita sudah tidak boleh ada apa-apa.’

Bagai mantra, kata menyakitkan itu terus terulang. Terus dan terus. Membuat jiwa Taeyeon perlahan-lahan menghilang. Kantung air matanya bahkan sudah kering. Terlalu banyak tangisan yang ia keluarkan untuk lelaki itu. Entah itu di masa lalu atau pun sekarang.

Dirinya ingin lepas. Tapi tak bisa. Lelaki itu sudah melekat bagai candu. Yang jika dijauhkan darinya akan membuat seluruh  tubuh Taeyeon sakit. Persis seperti pecandu narkoba yang tak memakainya barang sehari.

Suara denting bel apartemennya membuat Taeyeon terbangun sejenak dari lamunan. Awalnya bel itu berbunyi pelan. Hingga berubah menjadi cepat dan berulang-ulang. Bagai sang pemencet bel memaksanya untuk segera membukakan pintu.

Tanpa berpikir panjang –karena sudah tidak ada lagi waktu untuk berfikir. Otaknya pun ikut mati- Taeyeon melangkah menuju pintu depan. Membuka pintu tanpa ingin tahu siapa tamu gila yang berkunjung di jam segini.

Tanpa sempat dirinya berfikir –lagi-, kini ia sudah berada dalam pelukan seseorang. Jika saja aroma itu bukan aroma yang ia rindukan dan sangat ia kenal, mungkin Taeyeon akan berteriak sekencangnya. Bukannya menangis bahagia seperti sekarang.

Lelaki yang mendekapnya pun demikian. Aroma yang ia cari, rasa yang ingin dia cicipi akhirnya ia temukan. Detak jantung keduanya berdetak berirama. Meski tanpa kata, keduanya tahu apa makna yang ada di dalamnya.

“Akhirnya. Akhirnya aku menemukan teh hitamku.”

Dan Baekhyun serasa tak ingin melepas tautan keduanya. Ia terlampau bahagia. Karena teh hitamnya baru saja ditemukan. Ah… bukan. Lebih tepatnya ditentukan. Ia tak ingin menyia-nyiakan seduhannya lagi. Ia tak ingin menyeduh teh lain lagi. Hanya dia.

***

Oppa : panggilan untuk kakak laki-laki atau yang sedikit lebih tua. Bisa juga berarti panggilan sayang. (Untuk wanita)
Dorm : sebutan untuk tempat tinggal para artis
Sasaeng : penggemar yang berlebihan
Geurae : baiklah
Waeyo, wae : ada apa? Kenapa?
Mianhae : maafkan aku
Sunbae : sebutan untuk senior
Hyung : panggikan untuk kakak laki-laki atau yang lebih tua (digunakan oleh lelaki)
Gamsahamnida, mianhamnida : terima kasih. Maaf.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar